Yearly Archives: 2013

Paris, seminggu yang lalu

Cuaca akhir-akhir ini memang susah ditebak, sudah gak sesuai dengan musimnya seperti yang dulu pernah kita pelajari di sekolah. Harusnya masih musim kemarau, eh kok hujan. Harusnya udah musim semi, eh kok turun salju lagi. Tiba-tiba panas, tiba-tiba dingin, sebentar cerah, sebentar hujan, persis banget kayak mood perempuan #eh.

Tadi barusan baca berita di sini, yang menyatakan bahwa Perancis sedang dilanda badai salju hebat yang melumpuhkan sebagian wilayah Perancis. Alhamdulillah kami bener-bener beruntung karena minggu lalu diberi kesempatan oleh Allah untuk jalan-jalan disana pada saat cuaca cerah dengan suhu sekitar 8 derajat celcius. Karena rasa syukur yang teramat dalam inilah jadinya saya memutuskan untuk nulis tetang jalan-jalan di Paris duluan 😀

par10

Kami tiba di Bandara Charles De Gaulle Paris sekitar jam 10 malam dan langsung istirahat di hotel F-1 Roissy di dekat bandara supaya bisa langsung istirahat setelah penerbangan selama kurang-lebih 2 jam dari Barcelona. Besok paginya baru deh kita menuju pusat kota untuk berkeliling Paris.

par1

Berhubung di Paris ini udah hari-hari yang agak terakhir dari trip kami, jadi udah lumayan kehabisan tenaga untuk muter-muter *pijit-pijit betis*. Untungnya main attractions-nya Paris hanya berpusat di sepanjang sungai Seine. Jadi daripada capek-capek jalan, naik turun tangga dan naik metro, belum lagi kalo nyasar, akhirnya kami memutuskan untuk naik batobus dengan tiket one day pass seharga 15 euro. Batobus itu sejenis hop on hop off tapi pake kapal. Ada 8 stasiun pemberhentian di sepanjang sungai Seine yang kami bisa naik turun sesukanya yaitu, Eiffel, Musee D’ Orsay, Notre Dame, Saint Germain Des Pres, Hotel De Ville, Jardin Des Plantes, Louvre, Champ Elysees. Info lebih lengkap bisa diliat langsung di websitenya. Menurut saya sih cukup worth it dan recommended karena kami bisa naik turun kapal seharian, kapalnya pun nyaman sampe bisa ketiduran-ketiduran di dalem 😀 *ngelap iler*

par11

par12

par13

Saya memang cuma merencanakan satu hari aja di Paris. Soalnya mikirnya ah paling Paris ya gitu-gitu aja, mahal pulak. Muter-muter pake batobus seharian juga kelar. Tapi ternyata muter 8 stasiun pake batobus kalo gak keluar kapal sama sekali itu butuh 2 jam sendiri. Sementara batobus kalo bulan September – April gini beroperasi dari jam 10 sampai jam 7 malam aja. Kalo musim panas (April – September) baru deh dia operasinya sampai jam 9.30 malam. Karena awal-awal sempet santai-santai di dalem kapal aja akhirnya kami cuma bisa berhenti di 4 stasiun aja yaitu Eiffel, Musee D’ Orsay, Saint Germain Des Pres, dan Louvre. Tapi gak apa-apa deh, cukup puas kok meskipun agak sedih gak sempet turun ngeliat Champ Elysees dan cuma bisa motret Katedral Notre Dame dari kapal.

par9

Kami puas-puasin naik batobus sampai bener-bener kapal terakhir yang beroperasi *gak mau rugi*, sampai udah gelap dan sungai seine semakin cantik oleh lampu-lampu dari menara eiffel dan kapal-kapal dinner cruise. Seaindainya masih punya anggaran kayaknya nyobain dinner cruise di atas kapal sambil mengarungi sungai seine ini pasti romantis banget deh *buka dompet* *keluar laler* *mewek* 😦

par3-horz

Untungnya stasiun Jardin Des Plantes lumayan deket sama hotel kami di Ibis Gare Du Lyon. Jadi yaudah deh kami turun di stasiun itu trus jalan kaki 10 menit sampai hotel. Horeee gak perlu keluar duit untuk naik metro lagi. Alhamdulillah sehari di Paris yang cukup berkesan.

Semoga badai salju di Perancis segera berlalu, aamiin

Mengurus Visa Schengen di Kedutaan Belanda (Updated)

mengurus-visa-schengen

Haiii, mau sharing aja proses paling mendebarkan sebelum berangkat jalan-jalan kemarin yaitu mengurus visa Schengen. Kalo ada yang kurang, boleh ditambahin lho kakak-kakak 😀

Berhubung mau jalan-jalan ke Negara Eropa, maka syarat mutlaknya adalah harus memiliki visa perjalanan singkat ke Eropa yang lebih dikenal dengan nama visa Schengen. Dengan visa Schengen kita bebas keluar masuk negara-negara Eropa tersebut tanpa harus mengajukan visa ke masing-masing kedutaan, cukup di satu kedutaan negara yang pertama kali kita datangi atau negara terlama yang akan kita kunjungi. Daftar negara-negara yang termasuk dalam visa Schengen bisa diliat di sini.

Setelah browsing-browsing dan nanya sana-sini, saya mendapatkan informasi bahwa untuk pengurusan visa Schengen yang paling mudah adalah di kedutaan Belanda, bisa satu hari langsung jadi. Alhamdulillah, kebetulan banget memang negara Schengen yang pertama saya datangi adalah Belanda. Proses pengajuan visa ini cukup bikin deg-degan juga, karena ini pertama kalinya saya ngurus visa sendiri. Kemarin waktu jalan-jalan ke China dan Umroh kan visanya diurusin sama travel agent, saya tinggal ongkang-ongkang kaki udah jadi aja visanya 😀

Syarat dan Dokumen yang Diperlukan

  1. Berdoa menurut agama dan keyakinan masing-masing sebelum pengajuan visa, ini penting! *diselepet sajadah*
  2. Buat janji dulu lewat internet di sini, ingat bukan janji manis apalagi janji palsu. Tapi gak buat janji juga sebenernya gak apa-apa sih, asal datangnya pagi pasti masih diprioritaskan kok.
  3. Mengisi formulir pengajuan visa. Formulirnya bisa didapatkan di Kedutaan atau di download di mari
  4. Mengisi lembar perjalanan. Lembar perjalanan ini juga disediakan di Kedutaan, tapi biar cepet sih enaknya sebelum sampe kedutaan kita udah punya dan isi duluan. Monggo diunduh -> lembar-perjalanan
  5. Passport asli dan fotokopinya yang masih berlaku
  6. Pas foto. Syarat pas foto untuk visa biasanya berbeda-beda untuk masing-masing negara. Untuk syarat pas foto kedutaan Belanda bisa dicek di sini. Untuk lebih amannya, Kedutaan Belanda menyediakan layanan pas foto dengan biaya 50 ribu rupiah. Memang agak mahal sih, tapi dijamin fotonya pasti bener.
  7. Asuransi perjalanan dengan nilai pertanggungan mininal 30.000 EUR. Bisa dibeli di AXA atau ACA. Kemarin saya beli di ACA karena lebih deket sama kantor. Untuk 14 hari kena asuransi ACA Travel Safe seharga 35 USD dengan nilai pertanggungan 100.000 USD.
  8. Bukti Keuangan pribadi. Berupa rekening koran 3 bulan terakhir dan surat referensi bank. Untuk rekening koran kita tinggal minta ke CS bank, dan membayar sekitar Rp 2.500 per lembar. Untuk surat referensi bank kita juga bisa minta ke CS bank, nanti kita akan diminta mengisi formulir permohonan surat referensi bank. Biayanya berbeda-beda tiap bank, untuk Bank Mandiri dikenakan biaya 100 ribu rupiah dan bisa langsung didebet dari rekening kita. Jumlah minimal rekening yang ada di tabungan saya kurang tahu pasti emang beneran ada syarat ini atau enggak, tapi katanya sih minimal kita harus punya 34 EUR per hari.
  9. Surat Keterangan dari Perusahaan. Biasanya bagian HRD di kantor sudah punya standar sendiri untuk pembuatan surat ini, jadi kita tinggal minta aja ke mereka. Untuk wirausaha surat ini bisa diganti dengan SITU – SIUP – TDP.
  10. Reservasi Penerbangan. Katanya sih gak perlu tiket yang sudah issued, cukup bukti booking atau reservasinya aja. Tapi karena saya kemarin udah beli tiket Jakarta – Istanbul PP dan beberapa tiket lowcost carrier jadinya ya nothing to lose dan PD aja deh, insya Allah visanya keluar 😀
  11. Reservasi Penginapan. Biasanya sih untuk formalitas pengurusan visa, banyak yang bikin reservasi ngasal di booking.com karena free cancelation jadi gak perlu bayar dan bisa dibatalin seenak jidat. Tapi karena saya males kerja dua kali dan kepedean visanya bakal keluar, jadi saya langsung buat reservasi yang bener di hotel atau hostel yang saya mau.
  12. Biaya pengurusan visa sebesar 700 ribu rupiah.
  13. Dokumen lain seperti KTP, KK, Akta Kelahiran, Slip Gaji, Ijazah terakhir dibawa aja buat jaga-jaga 😀

Waktu itu saya buat janji jam 9 pagi, tapi saya dateng ke Kedutaan jam 8 pagi karena mau foto dulu. Ternyata jam 8 pagi disana udah rame banget donk, mau foto pun harus ngantri dulu. Setelah foto, saya nyerahin semua berkas-berkas ke petugas yang jaga. Kemudian dia ngasih kertas panduan untuk mengurutkan berkas. Tepat jam 9 saya dipanggil untuk masuk ke dalam ruangan. Di ruangan tersebut terdapat 3 loket untuk penyerahan berkas dan wawancara singkat. Setelah penyerahan berkas dan wawancara singkat tentang mau ngapain aja di Eropa, berapa lama, kenapa pengen ke Eropa, dan lain-lain, saya dikasih kertas untuk pengambilan visa jam 1 siang. Karena waktu itu ngurusnya berdua sama mas bebeb, katanya yang ngambil nanti boleh salah satu dari kami. Yaudah deh, saya balik ke kantor, mas Bebeb nongkrong disana sambil deg-degan sampe jam 1 siang.

Alhamdulillah berbekal iman, takwa, dan kepedean tingkat tinggi akhirnya visa Schengen yang cetar membahana ini pun terpampang nyata di paspor saya!

PicsArt_1359124050643

Intinya sih asal dokumen-dokumen kita lengkap, kita jelas mau kemana aja dan tinggal dimana, insya Allah pasti keluar kok visanya. Tapi memang sih dibanding orang lain barengan kami waktu ngurus visa yang rata-rata pergi pakai tour atau ada surat sponsor dari temen/keluarga di luar negeri, kami memang yang paling lama diverifikasi dan diwawancaranya. Tapi ya gak masalah, toh akhirnya keluar juga visanya.

Semoga postingan ini bisa membantu temen-temen yang mau mengurus visa schengen juga. Good luck!

Alamat Kedutaan Belanda : Jl. HR Rasuna Said Kav.S-3, Jakarta 12950

UPDATE TAHUN 2016

Mulai tahun 2016, pengurusan visa Schengen di Kedutaan Belanda dokumen-dokumennya harus dikirim ke Kuala Lumpur terlebih dahulu. Hal ini menyebabkan proses pembuatan visa yang tadinya bisa 1 hari jadi, sekarang jadi 10 hari. So bagi yang mau mengajukan visa  schengen di sini, sebaiknya jangan mepet-mepet dengan tanggal keberangkatan.

Biaya pengurusan visa per April 2016 adalah sebesar Rp 850.000,- per orang.

Pop Hotel Bandung Review

Sebagai traveler kere sejati, pastinya kita saya setiap kali traveling akan mencari penginapan yang MURAH, nyaman, banyak fasilitas, dan akses transportasinya gampang. Pas weekend gateway ke Bandung kemarin, tadinya saya mau nginep di hotel Cihampelas biar kalo kemana-mana deket dan banyak tempat makan juga tempat nongkrong disana. Tapi berdasarkan pengalaman dulu pernah nginep disana dan gak terlalu berkesan karena dikasih kamar yang di basement pengap dan tiap masuk kamar sinyal lenyap. Akhirnya saya coba cari-cari hotel lain di agoda.com yang harganya kurang lebih sama dengan hotel Cihampelas.

Tiba-tiba mata saya tertuju pada sebuah hotel dengan konsep warna-warni ceria membahana, dan yang paling bikin tertarik adalah tarifnya yang cuma 240 ribu semalam. Nampaknya sejenis budget hotel kayak Tune Hotel gitu. Nama hotelnya adalah Pop Hotel, masih satu manajemen dengan Harris Hotel. Letaknya satu gedung dengan mall festival CTlink yang beralamat di Jl. Peta no. 241, Kopo, Bandung. Memang agak jauh dari Dago, Cihampelas atau BSM, tapi gakpapalah dicoba aja kebetulan saya juga belum pernah ke daerah Kopo.

Sebelum berangkat ke Bandung saya udah browsing-browsing jalur angkot Bandung menuju hotel. Tapi emang ya, yang namanya jalur angkot Bandung itu sama kayak mood perempuan, susah dipahami! Udah ngikutin jalur angkot sesuai panduan, tetep aja nyasar. Untungnya orang Bandung baek-baek semua, dengan sedikit nanya sana-sini akhirnya ketemu juga itu gedung mall Festival CTLink *sujud syukur*. Mall Festival CTLink ini masih terhitung baru di Bandung, masih banyak stand-stand kosong di dalamnya. Kalo anak gaul Bandung menyebut mall ini dengan sebutan FeLink. Mungkin karena masih baru inilah jadinya Pop hotel bikin tarif promo yang murah meriah.

Camera 360

Pertama masuk ke lobinya, udah langsung tercermin suasana ceria dari warna warni interior yang ada. Di deket meja resepsionis ada beberapa komputer lengkap dengan akses internet yang bisa dengan bebas digunakan oleh tamu hotel. Di deket lift ada vending machine berbagai macam minuman dan cemilan yang cukup lengkap.

POP lobby

Berdasarkan pengalaman nginep di Tune Hotel yang handuk aja kudu sewa, toiletries beli, sarapan gak dapet, AC bayar, Wifi bayar, minta gendong bayar tapi disini ternyata banyak fasilitas gratis yang bisa dimanfaatkan. Handuk bisa dipakai gratis, toiletries dikasih meskipun minimalis, di kamar ada AC, wifi, safe deposit box, TV kabel dan keset *jarang-jarang lho budget hotel yang menyediakan keset*. Bagi traveler yang lebih sering tidur di hostel sempit sih, ukuran kamar disini bisa dibilang cukup luas. Yang paling saya suka adalah bentuk kamar mandinya yang unik seperti kapsul.

Camera 360

Camera 360

Besoknya kita dikejutkan lagi karena dapet fasilitas gratis lainnya yaitu sarapan pagi, yang disini disebut dengan quick bite. Kalo dari namanya quick bite itu kira-kira sejenis roti yang bisa dimakan dengan cepat dan praktis. Tapi ternyata bukan, quick bite yang disajikan hari itu berupa nasi kuning diselimuti telur dadar dan dibungkus daun pisang,  yang juga dilengkapi dengan orek tempe dan sambal. Selain itu juga disediakan teh, kopi dan air putih. Alhamdulillah kenyang banget.

photoshake_1346548135609

Camera 360

Overall sangat puas nginep disini dan mau nginep disini lagi kalo maen-maen ke Bandung, asal tarifnya masih promo 😀 *ditiban gedung sate*

Weekend Gateway ke De Ranch

Berhubung belum ada waktu buat hanimun, sementara saya kalo sebulan aja gak jalan-jalan rasanya gatel banget *padahal gatelnya karena gak mandi*, jadi saya kami memutuskan untuk weekend gateway ke tempat yang deket yaitu Bandung. Mau kemana aja di Bandung? Gak direncanakan secara detail, nanti mengalir ajalah disana.

photoshake_1346460794887

Kami berangkat naik kereta Argo Parahyangan hari sabtu jam 6 pagi, dan tiba di Bandung sekitar jam 9. Di luar stasiun udah banyak angkot dengan berbagai jurusan, dan kami memutuskan untuk naik angkot jurusan St Hall – Lembang. Di dalem angkot saya browsing-browsing dan kemudian memutuskan untuk ke De Ranch yang kebetulan bisa dicapai dengan angkot yang kami naiki ini, tinggal turun di pertigaan pasar Lembang terus jalan dikit ke arah tahu tauhid, dan nyampe deh di De Ranch.

Camera 360

De Ranch adalah tempat wisata bernuansa country dengan tagline “wisata kuda ala cowboy”. Berbagai jenis permainan ala cowboy tersedia disini, mulai dari berkuda, rodeo, delman, dan gerobak domba. Permainan lain seperti flying fox, fun boat, balon air, sampai ATV juga ada disini. Tiket masuk De Ranch sangat terjangkau, cuma goceng. Tiketnya pun bisa dituker dengan welcome drink berupa susu segar dengan berbagai pilihan rasa atau teh hangat. Sedangkan tarif permainan-permainannya berkisar antara 15.000 sampai 30.000 saja.

Camera 360

Camera 360

Begitu masuk, kami langsung disambut dengan berbagai stand makanan yang menggoda mulai dari menu western seperti steak, sosis, sampai menu Indonesia seperti nasi timbel dan tempe mendoan. Berhubung belom sarapan, maka kami pun tergoda untuk berbelok di salah satu stand makanan yang menjual makanan sunda. Saya pesen nasi tutug oncom, si bebeb pesen nasi timbel, kamipun makan dengan khidmat sambil menikmati pemandangan yang indah dan udara yang sejuk. Menurut beberapa blog dan artikel yang saya baca, makanan yang recommended disini adalah tempe mendoan dan sosis bakarnya. Setelah saya cobain, ternyata emang enak pemirsa. Tapi entah beneran enak atau apa karena saya lagi laper banget ya, ntar dicobain sendiri aja deh ya *dijejelin piring*.

BM3

BM6

Camera 360

Selesai makan kami foto-foto dan jalan-jalan aja keliling De Ranch. Lagi gak kepengen aja nyobain permainan-permainannya, lagian yang maen juga kebanyakan anak-anak kecil, kan gak enak *gakmau ngaku kalo bokek* 😀 Puas jalan-jalan dan foto-foto gak jelas, kami memutuskan untuk cabut dari De Ranch. Tapi karena adzan dzuhur sudah berkumandang, kami numpang sholat dulu disana. Musholanya bersih dan luas, toiletnya juga bersih dan gratis, benar-benar tempat yang menarik untuk berlibur atau sekedar melepas kepenatan.

Info:

De Ranch – Jl. Maribaya no. 17 Lembang

Hari senin tutup

Bisa dicapai dengan angkot jurusan St. Hall – Lembang turun di pertigaan pasar Lembang tarif Rp 6000 per orang *jauh soalnye*

Ini cerita banjirku, mana ceritamu?

banjir

Akhirnya setelah 6 tahun hidup di ibukota, baru hari ini saya ngerasain kebanjiran. Sebelum-sebelumnya saya selalu hoki gak pernah kena banjir. Pas Jakarta banjir, kebetulan banget sebelumnya saya udah ada di luar kota untuk tugas atau cuti. Tapi ternyata kali ini saya gak bisa menghindar lagi. Mungkin emang udah waktunya ngerasain kebanjiran kali ya. Belom lengkap jadi warga Jakarta kalo belom pernah ngerasain kebanjiran.

Hari ini emang hujan deres banget gak berhenti sejak dini hari, bikin saya makin betah sembunyi di balik selimut. Abis sholat subuh seperti biasa saya tidur lagi sampe jam setengah 7 baru abis itu mandi cuci muka + gosok gigi trus berangkat ke kantor. Biasanya juga kalo berangkat ada tebengan mobil temen jadi bisa berangkat bareng-bareng ke kantor, tapi ternyata pagi ini dia udah cabut duluan soalnya harus nganterin adeknya dulu ke Gambir. Padahal kalo lagi hujan gini susah banget cari bajaj atau taksi. Supirnya pada jual mahal pula, udah kayak paling ganteng aja se-Jakarta, mentang-mentang banyak yang butuh. Udah setengah jam nunggu bajaj, tapi bajaj/taksi yang kosong, available dan mapan gak juga menunjukkan tanda-tanda eksistensinya. Akhirnya saya memutuskan untuk jalan kaki ajalah ke kantor, sambil diliat nanti kalo kira-kira ada bajaj/taksi yang yang kosong di jalan.

Baru seperempat perjalanan, celana udah basah sampe sebetis karena beberapa jalan yang saya lewati udah terendam semata kaki. Mobil dan motor yang lewat juga dengan semena-mena nyipratin air. Untung kan tiap tadi pagi gak mandi, kalo mandi kan rugi banget, udah kotor lagi dan nista beginih. Sampe depan kantor Kementerian Perdagangan banjir makin tinggi, hujan juga belum menunjukkan tanda-tanda akan reda. Galau kapten, mau lanjutin perjalanan agak takut soalnya trotoar udah gak keliatan. Ngeri kejeblos di got kalo gak keliatan gini. Padahal kantor tinggal lurus doank tuh, tapi masih agak jauh sih, kurang lebih 800 meter lagi. Gak berani nerobos jalan medan merdeka timur yang udah banjir lumayan tinggi, saya memutuskan nyeberang jalan aja. Soalnya di seberang banjirnya gak terlalu tinggi, trotoar masih keliatan. Rencananya mau melipir lewat gambir aja, ntar kalo udah sampe depan kantor baru nyebrang.

Setelah nyebrang dan jalan dikit, ternyata jalan depan gambir juga banjirnya lumayan tinggi. Nah lo, lewat mana inih?! Karena bingung mau kemana akhirnya ikutan berdiri bareng segerombolan orang di depan Kedubes AS, kebetulan di atasnya ada rel kereta api, jadi gak kena hujan. Bisa istirahat sebentar sambil memantau keadaan jalan dan kantor melalui BBM atau twitter. BBM-an sama temen kantor, katanya kantor masih sepi padahal udah jam 8an. Sepertinya orang-orang kantor juga pada kejebak di jalan semua. Kira-kira hampir setengah jam berdiri di depan kedubes AS, langit masih belum juga menunjukan tanda-tanda berhenti menangis, sementara genangan air di jalan udah makin tinggi. Bingung banget nih, masa mau balik ke kosan lagi?! Sia-sia donk perjuangan saya jalan kaki sampe kesini. Tapi disini juga rasanya gak bisa kemana-mana, entah sampe jam berapa mau bertahan berdiri disini. Perut udah udah mulai mengeluarkan bunyi-bunyi protes minta diisi pula. Sebenernya saya bawa bekal sih dari kos, tapi ya gak mungkin lah saya makan disini.

Di tengah kegalauan tiba-tiba ada mbak-mbak jalan di depan saya pake payung dengan logo kantor saya. Keliatannya dia mau jalan ke arah gambir nerjang banjir. Langsung aja saya lari nyamperin dia, ternyata bener dia satu kantor sama saya. Yaudah saya minta barengan aja, menerjang banjir bersama-sama daripada kejebak gak jelas disini. Subhanallah saya ngerasa malu banget daritadi cuma berdiri gak berani nerjang banjir, sementara mbak ini dalam kondisi hamil 5 bulan berani banget nerjang banjir dengan gagah berani. Huhuhu percuma donk saya udah nyobain caving, parasailing, paralayang, body rafting, makan beling, tapi nerjang banjir gini aja gak berani.

Alhamdulillah setengah jam kemudian sampai juga kami di kantor. Rekor perjalanan ke kantor paling lama nih, sampe satu jam lebih. Padahal biasanya 5 menit naek bajaj udah sampe, kalo jalan kaki sekitar 20 menitan. Nyampe kantor langsung browsing, ternyata keadaan di daerah lain seperti Thamrin, Bundaran HI, Grogol dan lain-lain lebih parah lagi. So shame on us, kota metropolitan kok bisa kayak gini. Berpuluh-puluh tahun selalu kebanjiran tapi gak pernah belajar dari pengalaman.

Ya Allah sungguh ini semua adalah salah kami, manusia-manusia tamak yang gak bisa menjaga alam sebagai amanahMu. Semoga kejadian ini menjadi tamparan keras bagi kami, agar gak lagi asal-asalan dalam pembangunan, gak lagi buang sampah sembarangan, dan lebih memperhatian kelestarian alam daripada keuntungan materi semata, aamiin.

Salut banget untuk beberapa komunitas di Jakarta yang sangat tanggap membantu korban banjir. Diantaranya @ACTforhumanity, @cewequat, @berbaginasiJkt, dll. Bagi yang mau ikut berpartisipasi menyalurkan bantuan kepada para korban banjir, silakan langsung diintip timeline mereka untuk lebih jelasnya.

#PrayForJakarta #WeWillSurvive #alliswell #EverythingWillBeOK #instagram #instanusantara #iphonesia #sky #cloud #nature #flood #rain #banyakbangethastagnya #ditabokmassa

gambar diambil dari sini