Tag Archives: Belanda

Mengejar Tulip di Keukenhof

orange-tulip

Beginilah risikonya jadi seorang procrastinator sejati, harus bersusah payah menggali ingatan-ingatan beberapa tahun lalu demi menuliskan kembali sebuah rangkaian cerita di sini 😀 Kurang lebih 3 tahun lalu pertama kalinya saya melihat hamparan bunga-bunga berbentuk bulat warna warni yang menurut saya paling indah sedunia. Sebentar, ini bukan lagi ngomongin Bunga Citra Lestari yang makin lama makin cantik dan makin kayak remaja aja gitu penampilannya (sirik), apalagi Duo Bunga (ewh….), bukan juga bunga deposito.

Continue reading

Ibis Amsterdam Airport

Karena menurut jadwal bakalan nyampe Amsterdam jam 12 malem, tadinya mau nekat gegoleran aja tidur di Bandara. Tapi setelah dipikir-pikir mendingan istirahat yang nyaman aja di hotel karena perjalanan kami masih cukup panjang. Alhamdulillah beruntung banget waktu lagi browsing-browsing ternyata accorhotels.com lagi ada diskonan harga kamar, trus dapetlah kamar di Hotel Ibis Amsterdam Airport seharga 43 EUR saja *joget*. Tapi harga ini adalah harga kamar tanpa breakfast, kalo mau nambah breakfast bayar lagi 16 EUR per orang. Siapa yang butuh breakfast kalo aku udah punya kamu #eaaa, berhubung breakfastnya mahal kami memutuskan untuk memesan kamar tanpa breakfast, karena breakfast bisa beli dimana aja dan kami udah biasa gak sarapan, maklum anak kos 😀

PicsArt_1364013637597

Hotel Ibis Amsterdam Airport terletak di Schipholweg 181 Badhoevedorp, sekitar 2km dari Bandara Schiphol. Tersedia Shuttle Bus yang wara-wiri dari hotel dan airport setiap 15 menit mulai jam 5 pagi sampai jam 1 malam yang tarifnya gratis bagi tamu hotel Ibis.

PicsArt_1364013539933

Hotel berbintang 3 ini memiliki 644 kamar non smoking cukup luas dan bersih, setiap kamar dilengkapi televisi dan pemanas ruangan yang bekerja dengan baik. Pemanas ruangan ini penting karena kami tiba di Amsterdam di tengah malam dengan suhu sekitar 1 derajat celcius, kebayang donk *nemplok di pemanas*. Kamar mandinya luas bershower dilengkapi toilettries dan hairdrier. Dan yang paling penting adalah koneksi wifi gratis yang cukup kencang, sangat membantu komunikasi dan tentunya eksistensi di dunia maya *ditiban BTS*. Colokan listrik juga tersedia di beberapa sudut kamar. Oiya colokan listrik di Eropa dan di Indonesia sama kok, jadi gak perlu bawa universal adapter. Staffnya ramah-ramah, meskipun kami check in di hotel sudah jam 12 malem. Tapi mereka tetep senyum, ramah, gak keliatan lemes atau ngantuk sama sekali, dan memberikan pelayanan terbaiknya.

Overall, tentu saja menginap di hotel jaringan dengan mutu dan pelayanan yang sudah terstandard memberikan kepuasan luar biasa bagi kami, apalagi dapet tarif diskon 😀

Foto diambil dari sini

Menjemput Mimpi 11 Tahun yang Lalu

PicsArt_1364049642022

Barang siapa yang setelah membaca kata-kata “11 tahun yang lalu” kemudian langsung terbayang tahun 90an, niscaya kita adalah sama-sama anak generasi 90an *bakar KTP*.

11 tahun yang lalu itu tahun 2002 loh ceu, waktu itu saya lagi imut-imutnya masih kelas 3 SMA *yah ketauan deh ni umurnya*. Lagi gundah gulana-garemna-asemna mau nerusin kuliah dimana, terus iseng-iseng deh ikutan tes beasiswa kuliah di Belanda yang diadakan di sekolah. Segala persyaratan mulai dari dokumen-dokumen, motivation letter, interview, dan tes saya siapkan sendiri karena waktu itu mama-papa sedang menunaikan ibadah haji ke tanah suci.

Setelah melalui beberapa tahapan tes, saya menerima surat cinta berupa acceptance letter dari salah satu universitas di Belanda *kalo gak salah namanya Inholland* yang menyatakan bahwa saya diterima untuk kuliah dengan free tuition fee di jurusan International Business and Management Studies. Proses seleksinya bisa dibilang lumayan cepet sih, cuma sekitar satu setengah bulanan aja, mungkin karena universitasnya udah menjalin kerjasama yang baik sama sekolah saya. Abis nerima surat itu, langsung deh saya telepon mama-papa untuk mengabarkan kabar gembira ini. Udah kebayang serunya sekolah di tanah Eropa, belajar mandiri, belajar macam-macam bahasa, jalan-jalan keliling Eropa, punya temen dari berbagai suku bangsa dan lain-lain.

Sepulangnya mama-papa dari ibadah haji, barulah kami membicarakan hal ini secara intensif *halah*. Ternyata mama-papa keberatan kalo saya sekolah jauh-jauh ke Belanda, alasannya takut gak bisa membiayai biaya hidup yang tinggi disana dan khawatir karena saya masih terlalu imut untuk hidup di luar negeri sendirian. Sedih dan kecewa banget sih sebenernya, tapi apa boleh buat, karena gak dapet restu dari orang tua akhirnya saya cuma bisa dadah-dadah sama beasiswa kuliah di Belanda.

ams1edit

Alhamdulillah, akhirnya dua minggu yang lalu saya bisa juga menjejakkan kaki di negeri impian saya setelah menunda selama 11 tahun lamanya. Yah meskipun cuma mampir dua hari aja dan sekedar sightseeing di beberapa tempat tapi saya rasa sementara cukup untuk mengobati kekecewaan 11 tahun yang lalu.

PicsArt_1364050005789

Untuk Papa yang saat ini insya Allah sudah bahagia di surga, alhamdulillah putrimu sudah bisa mewujudkan mimpi terpendamnya 11 tahun yang lalu. Semoga engkau tenang disana ya pa, I love You 🙂

Lahh kok jadi menye-menye begini *ngelap ingus*, seperti biasa cerita selengkapnya menyusul ya. Happy weekend 😀

Mengurus Visa Schengen di Kedutaan Belanda (Updated)

mengurus-visa-schengen

Haiii, mau sharing aja proses paling mendebarkan sebelum berangkat jalan-jalan kemarin yaitu mengurus visa Schengen. Kalo ada yang kurang, boleh ditambahin lho kakak-kakak 😀

Berhubung mau jalan-jalan ke Negara Eropa, maka syarat mutlaknya adalah harus memiliki visa perjalanan singkat ke Eropa yang lebih dikenal dengan nama visa Schengen. Dengan visa Schengen kita bebas keluar masuk negara-negara Eropa tersebut tanpa harus mengajukan visa ke masing-masing kedutaan, cukup di satu kedutaan negara yang pertama kali kita datangi atau negara terlama yang akan kita kunjungi. Daftar negara-negara yang termasuk dalam visa Schengen bisa diliat di sini.

Setelah browsing-browsing dan nanya sana-sini, saya mendapatkan informasi bahwa untuk pengurusan visa Schengen yang paling mudah adalah di kedutaan Belanda, bisa satu hari langsung jadi. Alhamdulillah, kebetulan banget memang negara Schengen yang pertama saya datangi adalah Belanda. Proses pengajuan visa ini cukup bikin deg-degan juga, karena ini pertama kalinya saya ngurus visa sendiri. Kemarin waktu jalan-jalan ke China dan Umroh kan visanya diurusin sama travel agent, saya tinggal ongkang-ongkang kaki udah jadi aja visanya 😀

Syarat dan Dokumen yang Diperlukan

  1. Berdoa menurut agama dan keyakinan masing-masing sebelum pengajuan visa, ini penting! *diselepet sajadah*
  2. Buat janji dulu lewat internet di sini, ingat bukan janji manis apalagi janji palsu. Tapi gak buat janji juga sebenernya gak apa-apa sih, asal datangnya pagi pasti masih diprioritaskan kok.
  3. Mengisi formulir pengajuan visa. Formulirnya bisa didapatkan di Kedutaan atau di download di mari
  4. Mengisi lembar perjalanan. Lembar perjalanan ini juga disediakan di Kedutaan, tapi biar cepet sih enaknya sebelum sampe kedutaan kita udah punya dan isi duluan. Monggo diunduh -> lembar-perjalanan
  5. Passport asli dan fotokopinya yang masih berlaku
  6. Pas foto. Syarat pas foto untuk visa biasanya berbeda-beda untuk masing-masing negara. Untuk syarat pas foto kedutaan Belanda bisa dicek di sini. Untuk lebih amannya, Kedutaan Belanda menyediakan layanan pas foto dengan biaya 50 ribu rupiah. Memang agak mahal sih, tapi dijamin fotonya pasti bener.
  7. Asuransi perjalanan dengan nilai pertanggungan mininal 30.000 EUR. Bisa dibeli di AXA atau ACA. Kemarin saya beli di ACA karena lebih deket sama kantor. Untuk 14 hari kena asuransi ACA Travel Safe seharga 35 USD dengan nilai pertanggungan 100.000 USD.
  8. Bukti Keuangan pribadi. Berupa rekening koran 3 bulan terakhir dan surat referensi bank. Untuk rekening koran kita tinggal minta ke CS bank, dan membayar sekitar Rp 2.500 per lembar. Untuk surat referensi bank kita juga bisa minta ke CS bank, nanti kita akan diminta mengisi formulir permohonan surat referensi bank. Biayanya berbeda-beda tiap bank, untuk Bank Mandiri dikenakan biaya 100 ribu rupiah dan bisa langsung didebet dari rekening kita. Jumlah minimal rekening yang ada di tabungan saya kurang tahu pasti emang beneran ada syarat ini atau enggak, tapi katanya sih minimal kita harus punya 34 EUR per hari.
  9. Surat Keterangan dari Perusahaan. Biasanya bagian HRD di kantor sudah punya standar sendiri untuk pembuatan surat ini, jadi kita tinggal minta aja ke mereka. Untuk wirausaha surat ini bisa diganti dengan SITU – SIUP – TDP.
  10. Reservasi Penerbangan. Katanya sih gak perlu tiket yang sudah issued, cukup bukti booking atau reservasinya aja. Tapi karena saya kemarin udah beli tiket Jakarta – Istanbul PP dan beberapa tiket lowcost carrier jadinya ya nothing to lose dan PD aja deh, insya Allah visanya keluar 😀
  11. Reservasi Penginapan. Biasanya sih untuk formalitas pengurusan visa, banyak yang bikin reservasi ngasal di booking.com karena free cancelation jadi gak perlu bayar dan bisa dibatalin seenak jidat. Tapi karena saya males kerja dua kali dan kepedean visanya bakal keluar, jadi saya langsung buat reservasi yang bener di hotel atau hostel yang saya mau.
  12. Biaya pengurusan visa sebesar 700 ribu rupiah.
  13. Dokumen lain seperti KTP, KK, Akta Kelahiran, Slip Gaji, Ijazah terakhir dibawa aja buat jaga-jaga 😀

Waktu itu saya buat janji jam 9 pagi, tapi saya dateng ke Kedutaan jam 8 pagi karena mau foto dulu. Ternyata jam 8 pagi disana udah rame banget donk, mau foto pun harus ngantri dulu. Setelah foto, saya nyerahin semua berkas-berkas ke petugas yang jaga. Kemudian dia ngasih kertas panduan untuk mengurutkan berkas. Tepat jam 9 saya dipanggil untuk masuk ke dalam ruangan. Di ruangan tersebut terdapat 3 loket untuk penyerahan berkas dan wawancara singkat. Setelah penyerahan berkas dan wawancara singkat tentang mau ngapain aja di Eropa, berapa lama, kenapa pengen ke Eropa, dan lain-lain, saya dikasih kertas untuk pengambilan visa jam 1 siang. Karena waktu itu ngurusnya berdua sama mas bebeb, katanya yang ngambil nanti boleh salah satu dari kami. Yaudah deh, saya balik ke kantor, mas Bebeb nongkrong disana sambil deg-degan sampe jam 1 siang.

Alhamdulillah berbekal iman, takwa, dan kepedean tingkat tinggi akhirnya visa Schengen yang cetar membahana ini pun terpampang nyata di paspor saya!

PicsArt_1359124050643

Intinya sih asal dokumen-dokumen kita lengkap, kita jelas mau kemana aja dan tinggal dimana, insya Allah pasti keluar kok visanya. Tapi memang sih dibanding orang lain barengan kami waktu ngurus visa yang rata-rata pergi pakai tour atau ada surat sponsor dari temen/keluarga di luar negeri, kami memang yang paling lama diverifikasi dan diwawancaranya. Tapi ya gak masalah, toh akhirnya keluar juga visanya.

Semoga postingan ini bisa membantu temen-temen yang mau mengurus visa schengen juga. Good luck!

Alamat Kedutaan Belanda : Jl. HR Rasuna Said Kav.S-3, Jakarta 12950

UPDATE TAHUN 2016

Mulai tahun 2016, pengurusan visa Schengen di Kedutaan Belanda dokumen-dokumennya harus dikirim ke Kuala Lumpur terlebih dahulu. Hal ini menyebabkan proses pembuatan visa yang tadinya bisa 1 hari jadi, sekarang jadi 10 hari. So bagi yang mau mengajukan visa  schengen di sini, sebaiknya jangan mepet-mepet dengan tanggal keberangkatan.

Biaya pengurusan visa per April 2016 adalah sebesar Rp 850.000,- per orang.