Barang siapa yang setelah membaca kata-kata “11 tahun yang lalu” kemudian langsung terbayang tahun 90an, niscaya kita adalah sama-sama anak generasi 90an *bakar KTP*.
11 tahun yang lalu itu tahun 2002 loh ceu, waktu itu saya lagi imut-imutnya masih kelas 3 SMA *yah ketauan deh ni umurnya*. Lagi gundah gulana-garemna-asemna mau nerusin kuliah dimana, terus iseng-iseng deh ikutan tes beasiswa kuliah di Belanda yang diadakan di sekolah. Segala persyaratan mulai dari dokumen-dokumen, motivation letter, interview, dan tes saya siapkan sendiri karena waktu itu mama-papa sedang menunaikan ibadah haji ke tanah suci.
Setelah melalui beberapa tahapan tes, saya menerima surat cinta berupa acceptance letter dari salah satu universitas di Belanda *kalo gak salah namanya Inholland* yang menyatakan bahwa saya diterima untuk kuliah dengan free tuition fee di jurusan International Business and Management Studies. Proses seleksinya bisa dibilang lumayan cepet sih, cuma sekitar satu setengah bulanan aja, mungkin karena universitasnya udah menjalin kerjasama yang baik sama sekolah saya. Abis nerima surat itu, langsung deh saya telepon mama-papa untuk mengabarkan kabar gembira ini. Udah kebayang serunya sekolah di tanah Eropa, belajar mandiri, belajar macam-macam bahasa, jalan-jalan keliling Eropa, punya temen dari berbagai suku bangsa dan lain-lain.
Sepulangnya mama-papa dari ibadah haji, barulah kami membicarakan hal ini secara intensif *halah*. Ternyata mama-papa keberatan kalo saya sekolah jauh-jauh ke Belanda, alasannya takut gak bisa membiayai biaya hidup yang tinggi disana dan khawatir karena saya masih terlalu imut untuk hidup di luar negeri sendirian. Sedih dan kecewa banget sih sebenernya, tapi apa boleh buat, karena gak dapet restu dari orang tua akhirnya saya cuma bisa dadah-dadah sama beasiswa kuliah di Belanda.
Alhamdulillah, akhirnya dua minggu yang lalu saya bisa juga menjejakkan kaki di negeri impian saya setelah menunda selama 11 tahun lamanya. Yah meskipun cuma mampir dua hari aja dan sekedar sightseeing di beberapa tempat tapi saya rasa sementara cukup untuk mengobati kekecewaan 11 tahun yang lalu.
Untuk Papa yang saat ini insya Allah sudah bahagia di surga, alhamdulillah putrimu sudah bisa mewujudkan mimpi terpendamnya 11 tahun yang lalu. Semoga engkau tenang disana ya pa, I love You 🙂
Lahh kok jadi menye-menye begini *ngelap ingus*, seperti biasa cerita selengkapnya menyusul ya. Happy weekend 😀




























