Tag Archives: Amsterdam

Kedinginan di Volendam

PicsArt_1364007794234

Fotonya nampak lagi kedinginan yah?! Padahal itu cuma pura-pura kok, aslinya sih gak dingin cuma dingiiiiiiin bangeeeeeeet *guling-guling*. Waktu itu thermometer menunjukkan angka -1 derajat celcius, kebayang donk. Sebagai anak tropis yang manis, sudah tentu saya merasa sangat kedinginan dan jadi kepengen dipeluk Adam Levine *digampar Bebeb*. Tapi demi menuntaskan rasa penasaran terhadap Volendam yang katanya cantik banget itu, saya akhirnya merelakan diri untuk menggigil kedingininan, karena memang beginilah resikonya jalan-jalan pas lagi low season *nenggak tolak angin*.

PicsArt_1364006770022

Volendam adalah kampung nelayan yang cantik di pinggiran Amsterdam. Volendam bisa dicapai dari Centraal Station dengan menaiki bus EBS Waterland nomor 110, 112, 118 dan 373 dengan waktu tempuh sekitar 30 menit. Bus EBS ini gak termasuk tiket OV Chipkaart atau GVB Card yang biasanya digunakan untuk keliling kota Amsterdam, jadinya harus beli tiket lagi *mewek*. Tarif bus EBS Waterland ini seharga 10 EUR untuk one day pass, jadi pastinya akan lebih menguntungkan kalo perginya pagi-pagi biar bisa keliling Volendam – Edam dan Marcken. Berhubung berangkatnya udah kesiangan, jadinya kami gak sempet mampir ke Edam yang merupakan sentral pembuatan keju dan klompen *hiks*. Begitu turun dari bus, kami langsung disambut bangunan-bangunan rumah Volendam yang cantik dengan dengan jendela yang besar dan pagar yang tidak terlalu tinggi. Rata-rata di depan rumah terdapat skuter atau sepeda yang terparkir dengan manis. Aaaaak rumah cantik dan skuter adalah perpaduan yang keren, sepertinya damai banget tinggal di Volendam.

PicsArt_1364006383342

PicsArt_1364006610647

Gak seperti foto-foto yang saya lihat di internet, dimana Volendam itu rame banget dan banyak nelayan dengan kostum tradisional Belanda bersliweran, waktu kami datang kesana, Volendam lagi sepi banget. Cuma beberapa orang yang lalu lalang disana. Mungkin karena udah kesorean dan waktu itu cuacanya lagi dingin banget jadi orang-orang lebih memilih untuk kelonan di rumah. Lagian orang kurang kerjaan mana sih yang nekat nongkrong-nongkrong di pantai pada saat suhu di luar mencapai -1 derajat?! Ya gakpapa deh berasa liburan di tempat yang private gitu.

PicsArt_1364007656030

Selain sebagai kampung nelayan, Volendam juga terkenal sebagai tempat belanja berbagai macam souvenir khas Belanda yang murah meriah. Tapi berhubung kami memang gak mampu mau belanja souvenir jadi ya cuma foto-foto aja. Oiya satu lagi yang populer di Volendam adalah foto dengan kostum tradisional Belanda. Disini kita akan didandani dengan kostum dan aksesoris lainnya untuk berfoto dengan background nuansa Belanda. Tarif foto disini bisa berbeda-beda untuk masing-masing studio. Tapi berdasarkan browsing sana-sini, katanya yang paling murah adalah studio foto yang namanya “foto de boer”, price listnya bisa dicek disini, pake bahasa Belanda dan entah update atau enggak :D. Sebenernya kalo cuma pengen foto kayak gini sih gak perlu jauh-jauh ke Volendam, di HEMA resto Kemang Pratama, Jakarta juga bisa. Hasilnya pun gak jauh beda, info lebih lengkapnya bisa diintip disini. Jadi berdasarkan pertimbangan tersebut dan program pengiritan karena ini masih hari ke 3 dari trip, maka kami memutuskan untuk gak foto disini 😀

PicsArt_1364007448411

Di Volendam juga banyak terdapat hotel dengan arsitektur yang cantik dan unik untuk pengunjung yang ingin berlama-lama menikmati suasana Volendam. Kayaknya Volendam ini cocok banget buat bulan madu, karena suasana yang tenang, damai dan cenderung romantis. Apalagi kalo hotelnya berada persis di pinggir laut :3

PicsArt_1364007093926

PicsArt_1364007968641

Waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore, cuaca makin dingin, angin makin kencang, dan dua orang turis tropis ini udah makin gak jelas bentuknya karena kedinginan. Sebenernya pengen banget menghangatkan diri sambil makan di salah satu café yang ada disana. Apa daya kantong berkata bahwa kami cuma mampu beli roti atau cup noodles untuk mengganjal naga-naga di perut yang udah pada demo minta dikasih makan. Laper kak, kasian kak 😀 Akhirnya dengan berat hati kami memutuskan kembali ke centraal station, beli cup noodles di supermarket dan balik ke hotel untuk menghangatkan diri sambil siap-siap menjemput mimpi untuk suatu saat bisa kembali lagi ke Volendam.

Ibis Amsterdam Airport

Karena menurut jadwal bakalan nyampe Amsterdam jam 12 malem, tadinya mau nekat gegoleran aja tidur di Bandara. Tapi setelah dipikir-pikir mendingan istirahat yang nyaman aja di hotel karena perjalanan kami masih cukup panjang. Alhamdulillah beruntung banget waktu lagi browsing-browsing ternyata accorhotels.com lagi ada diskonan harga kamar, trus dapetlah kamar di Hotel Ibis Amsterdam Airport seharga 43 EUR saja *joget*. Tapi harga ini adalah harga kamar tanpa breakfast, kalo mau nambah breakfast bayar lagi 16 EUR per orang. Siapa yang butuh breakfast kalo aku udah punya kamu #eaaa, berhubung breakfastnya mahal kami memutuskan untuk memesan kamar tanpa breakfast, karena breakfast bisa beli dimana aja dan kami udah biasa gak sarapan, maklum anak kos 😀

PicsArt_1364013637597

Hotel Ibis Amsterdam Airport terletak di Schipholweg 181 Badhoevedorp, sekitar 2km dari Bandara Schiphol. Tersedia Shuttle Bus yang wara-wiri dari hotel dan airport setiap 15 menit mulai jam 5 pagi sampai jam 1 malam yang tarifnya gratis bagi tamu hotel Ibis.

PicsArt_1364013539933

Hotel berbintang 3 ini memiliki 644 kamar non smoking cukup luas dan bersih, setiap kamar dilengkapi televisi dan pemanas ruangan yang bekerja dengan baik. Pemanas ruangan ini penting karena kami tiba di Amsterdam di tengah malam dengan suhu sekitar 1 derajat celcius, kebayang donk *nemplok di pemanas*. Kamar mandinya luas bershower dilengkapi toilettries dan hairdrier. Dan yang paling penting adalah koneksi wifi gratis yang cukup kencang, sangat membantu komunikasi dan tentunya eksistensi di dunia maya *ditiban BTS*. Colokan listrik juga tersedia di beberapa sudut kamar. Oiya colokan listrik di Eropa dan di Indonesia sama kok, jadi gak perlu bawa universal adapter. Staffnya ramah-ramah, meskipun kami check in di hotel sudah jam 12 malem. Tapi mereka tetep senyum, ramah, gak keliatan lemes atau ngantuk sama sekali, dan memberikan pelayanan terbaiknya.

Overall, tentu saja menginap di hotel jaringan dengan mutu dan pelayanan yang sudah terstandard memberikan kepuasan luar biasa bagi kami, apalagi dapet tarif diskon 😀

Foto diambil dari sini

Menjemput Mimpi 11 Tahun yang Lalu

PicsArt_1364049642022

Barang siapa yang setelah membaca kata-kata “11 tahun yang lalu” kemudian langsung terbayang tahun 90an, niscaya kita adalah sama-sama anak generasi 90an *bakar KTP*.

11 tahun yang lalu itu tahun 2002 loh ceu, waktu itu saya lagi imut-imutnya masih kelas 3 SMA *yah ketauan deh ni umurnya*. Lagi gundah gulana-garemna-asemna mau nerusin kuliah dimana, terus iseng-iseng deh ikutan tes beasiswa kuliah di Belanda yang diadakan di sekolah. Segala persyaratan mulai dari dokumen-dokumen, motivation letter, interview, dan tes saya siapkan sendiri karena waktu itu mama-papa sedang menunaikan ibadah haji ke tanah suci.

Setelah melalui beberapa tahapan tes, saya menerima surat cinta berupa acceptance letter dari salah satu universitas di Belanda *kalo gak salah namanya Inholland* yang menyatakan bahwa saya diterima untuk kuliah dengan free tuition fee di jurusan International Business and Management Studies. Proses seleksinya bisa dibilang lumayan cepet sih, cuma sekitar satu setengah bulanan aja, mungkin karena universitasnya udah menjalin kerjasama yang baik sama sekolah saya. Abis nerima surat itu, langsung deh saya telepon mama-papa untuk mengabarkan kabar gembira ini. Udah kebayang serunya sekolah di tanah Eropa, belajar mandiri, belajar macam-macam bahasa, jalan-jalan keliling Eropa, punya temen dari berbagai suku bangsa dan lain-lain.

Sepulangnya mama-papa dari ibadah haji, barulah kami membicarakan hal ini secara intensif *halah*. Ternyata mama-papa keberatan kalo saya sekolah jauh-jauh ke Belanda, alasannya takut gak bisa membiayai biaya hidup yang tinggi disana dan khawatir karena saya masih terlalu imut untuk hidup di luar negeri sendirian. Sedih dan kecewa banget sih sebenernya, tapi apa boleh buat, karena gak dapet restu dari orang tua akhirnya saya cuma bisa dadah-dadah sama beasiswa kuliah di Belanda.

ams1edit

Alhamdulillah, akhirnya dua minggu yang lalu saya bisa juga menjejakkan kaki di negeri impian saya setelah menunda selama 11 tahun lamanya. Yah meskipun cuma mampir dua hari aja dan sekedar sightseeing di beberapa tempat tapi saya rasa sementara cukup untuk mengobati kekecewaan 11 tahun yang lalu.

PicsArt_1364050005789

Untuk Papa yang saat ini insya Allah sudah bahagia di surga, alhamdulillah putrimu sudah bisa mewujudkan mimpi terpendamnya 11 tahun yang lalu. Semoga engkau tenang disana ya pa, I love You 🙂

Lahh kok jadi menye-menye begini *ngelap ingus*, seperti biasa cerita selengkapnya menyusul ya. Happy weekend 😀