Yearly Archives: 2013

Kedinginan di Volendam

PicsArt_1364007794234

Fotonya nampak lagi kedinginan yah?! Padahal itu cuma pura-pura kok, aslinya sih gak dingin cuma dingiiiiiiin bangeeeeeeet *guling-guling*. Waktu itu thermometer menunjukkan angka -1 derajat celcius, kebayang donk. Sebagai anak tropis yang manis, sudah tentu saya merasa sangat kedinginan dan jadi kepengen dipeluk Adam Levine *digampar Bebeb*. Tapi demi menuntaskan rasa penasaran terhadap Volendam yang katanya cantik banget itu, saya akhirnya merelakan diri untuk menggigil kedingininan, karena memang beginilah resikonya jalan-jalan pas lagi low season *nenggak tolak angin*.

PicsArt_1364006770022

Volendam adalah kampung nelayan yang cantik di pinggiran Amsterdam. Volendam bisa dicapai dari Centraal Station dengan menaiki bus EBS Waterland nomor 110, 112, 118 dan 373 dengan waktu tempuh sekitar 30 menit. Bus EBS ini gak termasuk tiket OV Chipkaart atau GVB Card yang biasanya digunakan untuk keliling kota Amsterdam, jadinya harus beli tiket lagi *mewek*. Tarif bus EBS Waterland ini seharga 10 EUR untuk one day pass, jadi pastinya akan lebih menguntungkan kalo perginya pagi-pagi biar bisa keliling Volendam – Edam dan Marcken. Berhubung berangkatnya udah kesiangan, jadinya kami gak sempet mampir ke Edam yang merupakan sentral pembuatan keju dan klompen *hiks*. Begitu turun dari bus, kami langsung disambut bangunan-bangunan rumah Volendam yang cantik dengan dengan jendela yang besar dan pagar yang tidak terlalu tinggi. Rata-rata di depan rumah terdapat skuter atau sepeda yang terparkir dengan manis. Aaaaak rumah cantik dan skuter adalah perpaduan yang keren, sepertinya damai banget tinggal di Volendam.

PicsArt_1364006383342

PicsArt_1364006610647

Gak seperti foto-foto yang saya lihat di internet, dimana Volendam itu rame banget dan banyak nelayan dengan kostum tradisional Belanda bersliweran, waktu kami datang kesana, Volendam lagi sepi banget. Cuma beberapa orang yang lalu lalang disana. Mungkin karena udah kesorean dan waktu itu cuacanya lagi dingin banget jadi orang-orang lebih memilih untuk kelonan di rumah. Lagian orang kurang kerjaan mana sih yang nekat nongkrong-nongkrong di pantai pada saat suhu di luar mencapai -1 derajat?! Ya gakpapa deh berasa liburan di tempat yang private gitu.

PicsArt_1364007656030

Selain sebagai kampung nelayan, Volendam juga terkenal sebagai tempat belanja berbagai macam souvenir khas Belanda yang murah meriah. Tapi berhubung kami memang gak mampu mau belanja souvenir jadi ya cuma foto-foto aja. Oiya satu lagi yang populer di Volendam adalah foto dengan kostum tradisional Belanda. Disini kita akan didandani dengan kostum dan aksesoris lainnya untuk berfoto dengan background nuansa Belanda. Tarif foto disini bisa berbeda-beda untuk masing-masing studio. Tapi berdasarkan browsing sana-sini, katanya yang paling murah adalah studio foto yang namanya “foto de boer”, price listnya bisa dicek disini, pake bahasa Belanda dan entah update atau enggak :D. Sebenernya kalo cuma pengen foto kayak gini sih gak perlu jauh-jauh ke Volendam, di HEMA resto Kemang Pratama, Jakarta juga bisa. Hasilnya pun gak jauh beda, info lebih lengkapnya bisa diintip disini. Jadi berdasarkan pertimbangan tersebut dan program pengiritan karena ini masih hari ke 3 dari trip, maka kami memutuskan untuk gak foto disini 😀

PicsArt_1364007448411

Di Volendam juga banyak terdapat hotel dengan arsitektur yang cantik dan unik untuk pengunjung yang ingin berlama-lama menikmati suasana Volendam. Kayaknya Volendam ini cocok banget buat bulan madu, karena suasana yang tenang, damai dan cenderung romantis. Apalagi kalo hotelnya berada persis di pinggir laut :3

PicsArt_1364007093926

PicsArt_1364007968641

Waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore, cuaca makin dingin, angin makin kencang, dan dua orang turis tropis ini udah makin gak jelas bentuknya karena kedinginan. Sebenernya pengen banget menghangatkan diri sambil makan di salah satu café yang ada disana. Apa daya kantong berkata bahwa kami cuma mampu beli roti atau cup noodles untuk mengganjal naga-naga di perut yang udah pada demo minta dikasih makan. Laper kak, kasian kak 😀 Akhirnya dengan berat hati kami memutuskan kembali ke centraal station, beli cup noodles di supermarket dan balik ke hotel untuk menghangatkan diri sambil siap-siap menjemput mimpi untuk suatu saat bisa kembali lagi ke Volendam.

Norak-Norak Bergembira Naik Turkish Airlines

Turkish_Airlines_Airbus

Siapa yang gak kenal Turkish Airlines? Maskapai nomor wahid dengan tagline “Globally yours” dan sudah mengantongi predikat “Best Airline in Europe in 2012” yang baru-baru ini memasang Kobe Bryant dan Lionel Messi sebagai bintang iklannya, belum lagi logonya yang sering muncul di beberapa stadion sepak bola di Eropa.

Sekitar bulan Agustus-September tahun lalu, Turkish Airlines sedang ada diskonan tiket untuk beberapa rute Eropa dan Amerika untuk travel period sampai dengan bulan Maret 2013. Maklum bulan-bulan segitu memang lagi low season. Karena memang berencana Eurotrip, inilah yang saya tunggu-tunggu. Beberapa hari sebelumnya juga ada diskonan tiket dari Etihad dan Qatar airways, tapi karena kelamaan mikir jadinya saya gak kebagian tiket promonya. Makanya kali ini saya gak boleh gagal lagi *pasang iket kepala*. Tapi webistenya Turkish Airline itu error melulu, udah masukin identitas segala macem banyak-banyak, kemudian error berkali-kali. Lelah saya, lelah *dijejelin kebab*. Akhirnya diputuskan beli tiketnya lewat travel agent aja supaya lebih aman. Memang harus nambah fee beberapa puluh ribu rupiah, tapi gak masalah karena abis itu tiket Jakarta-Istanbul PP seharga 7jutaan langsung berada di genggaman.

IMG01089-20130222-1923

Sebagai penggemar budget airlines sejati *karena kapasitas kantong*, naik pesawat sekelas Turkish Airlines tentunya bikin excited plus norak-norak gimana gitu 😀 Pertama masuk kabin langsung amazed guling-guling di kabin, ini pesawatnya gede banget ya. Tempat duduknya gak sempit, space buat kakinya cukup lega untuk ukuran orang Asia, entertainment-nya lengkap, ada puluhan film, lagu, video, dan game yang bikin penerbangan selama 15 jam itu gak ngebosenin. Kalo lamanya sih tetep berasa lama *elus-elus pantat yang tepos*.

Cabin

Naik Turkish Airlines dijamin gak kelaperan, abisnya dikasih makanan terus. Waktu itu saya terbang dari Jakarta jam 19.50, otomatis udah makan malem duluan. Baru terbang sebentar udah dikasih sandwich sama minuman. Meskipun masih agak kenyang tapi tetep dimakan aja *rakus*. Abis itu beberapa jam kemudian kami dikasih makanan berat yang terdiri dari appetizer, main dish, dan dessert. Menu makanannya berupa makanan timur tengah, mungkin lidah kita kurang cocok, tapi menurut saya cukup enak kok. Abis makan pun masih dikasih manisan buah, kacang dan air mineral botol. Setelah itu paginya dikasih makan lagi berupa omelette, kentang, lengkap dengan appetizer dan dessert. Jadi totalnya 2 kali makan berat dan satu kali makan ringan. Tapi diluar jatah makanan ini kalo masih ngerasa kelaperan, boleh kok langsung minta ke dapurnya, jangan lupa bawa tupperware juga buat bungkus *dikeplak Pramugari*.

foodTurkish

Selain makanan yang melimpah, kita juga dikasih toilettries yang dibungkus manis dalam kotak pensil unyu yang isinya sikat gigi, pasta gigi, kaos kaki, lip balm, ear plug, dan eye mask.

turk1-horz

Jadi mau nyobain naik Turkish Airlines juga? maskapai satu ini lumayan sering bikin diskonan kok, sering-sering dipantau aja websitenya. Good luck! 🙂


Beberapa foto diambil dari sini dan sini

Ibis Amsterdam Airport

Karena menurut jadwal bakalan nyampe Amsterdam jam 12 malem, tadinya mau nekat gegoleran aja tidur di Bandara. Tapi setelah dipikir-pikir mendingan istirahat yang nyaman aja di hotel karena perjalanan kami masih cukup panjang. Alhamdulillah beruntung banget waktu lagi browsing-browsing ternyata accorhotels.com lagi ada diskonan harga kamar, trus dapetlah kamar di Hotel Ibis Amsterdam Airport seharga 43 EUR saja *joget*. Tapi harga ini adalah harga kamar tanpa breakfast, kalo mau nambah breakfast bayar lagi 16 EUR per orang. Siapa yang butuh breakfast kalo aku udah punya kamu #eaaa, berhubung breakfastnya mahal kami memutuskan untuk memesan kamar tanpa breakfast, karena breakfast bisa beli dimana aja dan kami udah biasa gak sarapan, maklum anak kos 😀

PicsArt_1364013637597

Hotel Ibis Amsterdam Airport terletak di Schipholweg 181 Badhoevedorp, sekitar 2km dari Bandara Schiphol. Tersedia Shuttle Bus yang wara-wiri dari hotel dan airport setiap 15 menit mulai jam 5 pagi sampai jam 1 malam yang tarifnya gratis bagi tamu hotel Ibis.

PicsArt_1364013539933

Hotel berbintang 3 ini memiliki 644 kamar non smoking cukup luas dan bersih, setiap kamar dilengkapi televisi dan pemanas ruangan yang bekerja dengan baik. Pemanas ruangan ini penting karena kami tiba di Amsterdam di tengah malam dengan suhu sekitar 1 derajat celcius, kebayang donk *nemplok di pemanas*. Kamar mandinya luas bershower dilengkapi toilettries dan hairdrier. Dan yang paling penting adalah koneksi wifi gratis yang cukup kencang, sangat membantu komunikasi dan tentunya eksistensi di dunia maya *ditiban BTS*. Colokan listrik juga tersedia di beberapa sudut kamar. Oiya colokan listrik di Eropa dan di Indonesia sama kok, jadi gak perlu bawa universal adapter. Staffnya ramah-ramah, meskipun kami check in di hotel sudah jam 12 malem. Tapi mereka tetep senyum, ramah, gak keliatan lemes atau ngantuk sama sekali, dan memberikan pelayanan terbaiknya.

Overall, tentu saja menginap di hotel jaringan dengan mutu dan pelayanan yang sudah terstandard memberikan kepuasan luar biasa bagi kami, apalagi dapet tarif diskon 😀

Foto diambil dari sini

Menjemput Mimpi 11 Tahun yang Lalu

PicsArt_1364049642022

Barang siapa yang setelah membaca kata-kata “11 tahun yang lalu” kemudian langsung terbayang tahun 90an, niscaya kita adalah sama-sama anak generasi 90an *bakar KTP*.

11 tahun yang lalu itu tahun 2002 loh ceu, waktu itu saya lagi imut-imutnya masih kelas 3 SMA *yah ketauan deh ni umurnya*. Lagi gundah gulana-garemna-asemna mau nerusin kuliah dimana, terus iseng-iseng deh ikutan tes beasiswa kuliah di Belanda yang diadakan di sekolah. Segala persyaratan mulai dari dokumen-dokumen, motivation letter, interview, dan tes saya siapkan sendiri karena waktu itu mama-papa sedang menunaikan ibadah haji ke tanah suci.

Setelah melalui beberapa tahapan tes, saya menerima surat cinta berupa acceptance letter dari salah satu universitas di Belanda *kalo gak salah namanya Inholland* yang menyatakan bahwa saya diterima untuk kuliah dengan free tuition fee di jurusan International Business and Management Studies. Proses seleksinya bisa dibilang lumayan cepet sih, cuma sekitar satu setengah bulanan aja, mungkin karena universitasnya udah menjalin kerjasama yang baik sama sekolah saya. Abis nerima surat itu, langsung deh saya telepon mama-papa untuk mengabarkan kabar gembira ini. Udah kebayang serunya sekolah di tanah Eropa, belajar mandiri, belajar macam-macam bahasa, jalan-jalan keliling Eropa, punya temen dari berbagai suku bangsa dan lain-lain.

Sepulangnya mama-papa dari ibadah haji, barulah kami membicarakan hal ini secara intensif *halah*. Ternyata mama-papa keberatan kalo saya sekolah jauh-jauh ke Belanda, alasannya takut gak bisa membiayai biaya hidup yang tinggi disana dan khawatir karena saya masih terlalu imut untuk hidup di luar negeri sendirian. Sedih dan kecewa banget sih sebenernya, tapi apa boleh buat, karena gak dapet restu dari orang tua akhirnya saya cuma bisa dadah-dadah sama beasiswa kuliah di Belanda.

ams1edit

Alhamdulillah, akhirnya dua minggu yang lalu saya bisa juga menjejakkan kaki di negeri impian saya setelah menunda selama 11 tahun lamanya. Yah meskipun cuma mampir dua hari aja dan sekedar sightseeing di beberapa tempat tapi saya rasa sementara cukup untuk mengobati kekecewaan 11 tahun yang lalu.

PicsArt_1364050005789

Untuk Papa yang saat ini insya Allah sudah bahagia di surga, alhamdulillah putrimu sudah bisa mewujudkan mimpi terpendamnya 11 tahun yang lalu. Semoga engkau tenang disana ya pa, I love You 🙂

Lahh kok jadi menye-menye begini *ngelap ingus*, seperti biasa cerita selengkapnya menyusul ya. Happy weekend 😀

Dinas Luar Kota

Mbak-mbak dan mas-mas yang kerja kantoran pasti udah gak asing lagi dengan yang namanya dinas luar kota. Ada yang gembira ada juga yang sedih kalo kebagian tugas dinas luar kota ini, tapi kayaknya sih rata-rata gembira ya. Soalnya udah gak ngantor, jalan-jalan, nginep di hotel berbintang, dibayarin pula. Kebijakan dinas luar kota ini beda-beda sih tiap kantor. Kalo kantor saya menerapkan kebijakan add cost, yang artinya kita keluar duit duluan untuk segala macem urusan yaitu tiket, hotel, makan, transportasi, dll baru deh seminggu kemudian duitnya diganti. Digantinya pun sesuai tagihan/bill yang ada, jadi gak bisa dimain-mainin. Eh bisa aja sih kalo yang niat banget dan gak takut dosa, bikin bill palsu 😀

Tapi tetep aja sih yang namanya dinas luar kota itu intinya tetep KERJA , yang diutamakan adalah kerjanya. Kalopun sempet jalan-jalan di lokasi dinas itu namanya rejeki. Alhamdulillah beberapa kali dinas luar kota saya sempet kebagian rejeki jalan-jalan meskipun sebentar seperti waktu ke Makassar, Medan, dan Bali. Ada juga yang cuma sempet wisata kuliner seperti waktu ke Balikpapan dan Medan. Tapi sempet atau enggaknya jalan-jalan, moment dinas luar kota selalu saya nantikan apalagi kalo lagi jenuh di kantor.

Dinas luar kota terakhir saya adalah awal bulan Februari kemarin ke Batam. Sebenernya pesimis bisa jalan-jalan, soalnya jadwal acaranya padat sepadat…..eng gak jadi deh *ditampol*. Tapi bu bos bilang supaya saya bawa paspor buat jaga-jaga, kali aja bisa nyebrang, saya manut dong. Acara tetap selesai sesuai jadwal, tapi bu bos ngelobi Big Bos *kok kayak merek pulpen yak* supaya beliau dan saya bisa nyebrang dan pulangnya diundur besok. Alhamdulillah dibolehin sama Big Bos *joget hula-hula*. Tapi yang namanya extent buat liburan  cencu saja biaya operasionalnya ditanggung sendiri. Extent hotel 1 malam bayar sendiri, eh dibayarin bu bos denk soalnya sekamar berdua, makan bayar sendiri, eh dibayarin bu bos juga *gak modal*, dan biaya nyebrang ke Singapore PP bayar sendiri donk 😀

2013-02-14-11-27-01_decoJujur, ini adalah pertama kalinya saya ke Singapore lewat Batam *ndeso*, sebelum-sebelumnya selalu direct flight dari Jakarta. Karena hotel tempat kami menginap adalah di swiss belhotel harbour bay, jadinya kami menyebrang lewat harbour bay. Biaya nyebrang lewat harbour bay dengan kapal Prima Ferries ini adalah Rp 144.000 PP *kata mas-mas di loket*. Bu bos kaget, soalnya berdasarkan pengalaman beliau sebelumnya nyebrang ke Singapore itu biasanya biayanya 300 ribu. Kita sampe berkali-kali nanya sama masnya buat make sure, ini PP mas? Dan masnya mengangguk mantap. Tapi kemudian dia bilang, nanti pulangnya dari Singapore bayar tax 20 SGD bu. Yeee capek dehh, sama aja donk kalo gitu mas *jedotin masnya*.

2013-02-14-11-21-27_deco

IMG01041-20130208-0930_0

Baiklah, mari kita lupakan mas-mas di loket tadi. Nyebrang dari Harbour bay ke Seingapore ternyata cuma 45 menit. Lebih cepet daripada lewat Batam Center yang katanya memakan waktu 1 jam lebih. Ini adalah beberapa pemandangan yang diperoleh dari dalam kapal.

Camera 360

IMG01047-20130208-1016_1_0

IMG01050-20130208-1016_0

IMG01053-20130208-1019_0

Sampe di Harbour Front Singapore, saya dan bu bos nukerin duit ke money changer *ya iyalah masak ke salon*. Disinilah terjadi kesenjangan sosial, dimana seorang cungpret cuma sanggup nukerin duit 1 juta  rupiah, sementara bu bos nuker duit 10 juta *gunting-gunting kartu ATM*. Saya pun berfirasat ndak enak, sepertinya bu bos mau belanja besar-besaran nih. Padahal pengen ke gardens by the bay, tapi kayaknya gak memungkinkan deh kalo sama bu bos gini fufufu yaudahlah.

IMG-20130208-00767_0

Dan beneran donk seharian itu kami cuma muter-muter orchard road doank keluar masuk mall satu dan mall lain, bu bos belanja banyak banget buat diri sendiri, juga oleh-oleh buat suami dan anak-anaknya. Belanjaanya sampe 4 tas besar-besar. Trus si cungpret belanja apaan ya? Si cungpret cuma beli kaos diskonan di Uniqlo sama beli coklat titipan temen. Kasian ya dia, jauh-jauh nyebrang ke Singapore cuma buat jadi porter 😀 tapi gakpapa deh soalnya abis itu ditraktir makan sampe kenyang sama bu bos di Fish & co. Kalo udah bawa belanjaan banyak banget gini udah gak mood buat jalan-jalan lagi deh, jadi langsung cus balik ke Batam meskipun sebenernya gak rela banget ke Singapore cuma mampir ke Orchard *gelendotin patung merlion*.

2013-02-14-11-16-33_deco

2013-02-14-11-24-08_deco

Jadi beginilah cerita tentang dinas luar kota saya yang sangat berkesan, share donk cerita-cerita dinas luar kota temen-temen 😀