
”hey, do you want to pray?” teriakan salah seorang petugas berjaket hitam mengagetkanku yang sedang bengong mengantri di depan pintu masuk masjid.

”hey, do you want to pray?” teriakan salah seorang petugas berjaket hitam mengagetkanku yang sedang bengong mengantri di depan pintu masuk masjid.
Kalo udah musim liburan, kondisi lalu lintas kota manapun bisa tiba-tiba berubah menyerupai kondisi lalu lintas ibukota saat jam pulang kantor, macet bangeud! Begitupun kota Malang saat libur natal dan tahun baru kemarin, horor banget deh jalanan. Hal ini yang bikin saya jadi males pergi ke mana-mana saat mudik kemarin, selain karena sekarang di rumah udah gak punya mobil lagi #malahcurhat 😀
Selain lalu lintas di dalam kota Malang, lalu lintas pada akses jalan menuju dan keluar Malang juga dapat dipastikan padat merayap. Karena banyak orang dari luar kota dateng ke Malang, dan banyak orang Malang yang juga jalan-jalan ke luar kota, ruwet jaya lah pokoknya.
Woi kalem woi, udah lama gak ngepost kok dateng-dateng ngomel 😀 *ditoyor berjamaah*
Sampai dengan saat ini, kayaknya udah ratusan orang yang bilang kalo saya termasuk makhluk yang merugi di dunia karena gak suka durian yang menurut mereka makanan surga dunia. Lha piye jal, aku pancen ora seneng kok…bukan mau sok-sok an anti mainstream tapi memang saya gak menemukan dimana letak nikmatnya makan durian. Kalo menurut saya sih surga dunia itu ya tidur-tiduran di dada Channing Tatum di tepi pantai Bora-Bora Island
Menurut mas-mas resepsionis India, main attraction di kota Basel tidak terlalu banyak dan semua bisa dicapai dengan menaiki tram no. 6. Maka disinilah kami, di atas tram no. 6 dan sedang memandang keluar jendela dimana tram sedang membelah sungai rheine yang indah.
Kami turun di pemberhentian tram “Schifflande” kemudian berjalan melewati gang kecil dengan bangunan-bangunan yang unik di kanan kiri. Lalu kami berhenti di depan sebuah bangunan berpintu coklat dan aksen emas dengan tulisan “Museum” diatasnya.
Kota Basel ditunjang oleh sarana transportasi publik yang mumpuni berupa jaringan tram yang cukup luas. Tram ini menghubungkan seluruh sudut kota basel mulai dari pusat kota sampai daerah sub urban. Tram beroperasi mulai dari sekitar jam 4 pagi sampai jam 1 malam, dengan frekuensi 5 – 30 menit. Di setiap pemberhentian tram terdapat layar monitor yang menunjukkan posisi tram dan waktu tunggu tram. Tram akan tiba di pemberhentian secara on time sesuai dengan waktu yang tertera di monitor, gak pake molor. Tram di kota Basel dioperasikan dua provider yaitu Basler Verkehrs Betriebe (BVB) yang melayani daerah pusat kota dan Baselland Transport (BLT) yang melayani daerah lingkar luar Basel, sub-urban serta Basel Selatan. Tapi tenang saja, meskipun dioperasikan oleh dua operator yang berbeda, ticketing system-nya tetep sama kok. Jadwal dan rute tram pun terpampang nyata di website, semua mudah dan gak pakai ribet.
Untuk bisa naik tram tentu saja diperlukan tiket. Seperti di negara-negara maju pada umumnya, di setiap pemberhentian tram pasti terdapat loket atau mesin untuk membeli tiket. Jangan coba-coba naik tram tanpa beli tiket. Karena meskipun di tram tidak ada alat untuk tap atau validate tiket, biasanya dilakukan pemeriksaan secara random untuk memeriksa apakah semua penumpang memiliki tiket. Jika tertangkap tidak memiliki tiket, maka akan dikenakan denda yang cukup besar. Hayo masih berani naik tanpa tiket? 😀 Terdapat bermacam-macam tiket tram yang tersedia disini, ada yang single trip ticket, 6 trip ticket, one month tram pass, one year tram pass, dan mobility ticket yang saya dapet dari hotel. Sepertinya hampir semua hotel di Basel menyediakan mobility ticket untuk para tamunya.
Karena udah dapet mobility ticket buat keliling Basel, maka hari itu kami puas-puasin banget naik tram keliling Basel. Si manusia pelor pun bisa sampe ketiduran di dalem tram Berhubung Basel ini kotanya gak gede-gede amat, dan frekuensi tram-nya cukup sering jadinya tram-nya gak penuh dan kami selalu dapet duduk di dalem tram.
Ngeliat kayak gini saya jadi ngayal, kapan ya Indonesia, atau Jakarta dulu deh sebagai ibukota punya sistem transportasi publik yang mumpuni seperti ini? Kapan ya pemerintah bisa lebih concern terhadap masalah transportasi publik? Bukannya malah ngurusin mobil murah yang bikin tambah macet dan ujung-ujungnya bikin ekonomi Indonesia makin terpuruk karena nilai impor BBM yang semakin besar *deep sigh*.