Mencari Hangat dalam Semangkok Mie Ongklok

So long as you have food in your mouth, you have solved all questions for time being

– Franz Kafka –

1418393321260

Wonosobo, sebuah Kabupaten di Jawa Tengah yang sebagian besar wilayahnya merupakan daerah pegunungan. Berbatasan dengan gunung Sindoro, Sumbing dan Prau, maka gak heran kalo udara di Wonosobo selalu sejuk kayak senyum saya.

Gaes…. gaes…. kok pada muntah sih gaes :mrgreen:

Dua minggu lalu adalah untuk pertama kalinya saya singgah di Wonosobo dalam rangkaian acara #FamTripJateng yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Tengah. Kurang lebih ada 20 orang blogger ngetop dan kece dari berbagai daerah yang diundang oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Tengah untuk mengikuti acara #FamTripJateng ini.

Siang itu udara Wonosobo cukup dingin, ditambah awan mendung dan sedikit gerimis, sukses membuat perut yang memang mudah lapar ini berteriak. Kami mampir di sebuah bangunan mungil bercat kuning di dekat masjid Kauman yang menyediakan kuliner khas Wonosobo yaitu Mie Ongklok.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Mie kuning ditambah kol yang sudah direbus, lalu disiram dengan kuah kental yang terbuat dari tepung kanji dicampur ebi, ditaburi cacahan daun kucai, bawang goreng dan taraaaa jadilah Mie Ongklok!

1418393408115

Trus letak ongklok-nya dimana kak? 😯

Itu tuuuhh, keranjang kecil dari anyaman bambu itulah yang disebut Ongklok adek- adek πŸ˜€ Jadi selagi direbus, mie-nya diongklok-ongklok ke atas dan kebawah.

1418393492549

Seperti halnya aku yang gak lengkap tanpa kamu *eaaak*, makan mie ongklok belum lengkap kalo tanpa sate sapi. Potongan daging sapi kecil-kecil dengan bumbu kacang yang manis semakin memperkuat citarasa manis dari mie ongklok ini. Tapi menurut lidah saya yang doyan pedas, mie ongklok akan lebih sedap jika ditambah potongan cabe rawit segar di atasnya. Sayang sekali hari itu sepertinya cabe rawit sedang mahal dan langka di Wonosobo, sehingga warung Bu Umi tidak menyediakan potongan cabe rawit.

1418393072328

Karena saya semi-semi vegetarian, untuk menemani makan mie ongklok saya lebih memilih gorengan tempe kemul dan geblek. Geblek itu mirip seperti cireng Sunda yang terbuat dari tepung kanji tapi lebih hambar rasanya, sedangkan tempe kemul adalah tempe yang diiris tipis dengan selimut a.k.a kemul yang terbuat dari adonan tepung ditambah irisan daun kucai. Tempe kemul ini enak banget dinikmati panas-panas, apalagi kalo ditambah cabe rawit bisa kalap makan sampe 10 biji πŸ˜€

1418393212690

Siang itu, hangat dan manisnya mie ongklok menutup 2 hari kebersamaan hangat kami dalam #FamTripJateng. Semoga silaturahmi kita tetap hangat dan terjaga seterusnya ya.

Udara boleh dingin, tapi hubungan kita jangan πŸ˜›

Mie Ongklok BU UMI
Jl. Masjid, Kauman Utara
Wonosobo

Baca juga cerita #FamTripJateng yang lain disini :

Advertisements

86 thoughts on “Mencari Hangat dalam Semangkok Mie Ongklok

    1. rintadita Post author

      ahahaha Jogja dulu mbaaa *padahal ini jawabnya setelah liat peta* πŸ˜›
      wahhh asiknya yg mau roadtrip, tadi sempet baca di blog tapi belum detail, nanti mampir lagi

      Like

      Reply
  1. mrssanti

    kata temen bloher poertorico aka purwokerto, abis makan mie ongklok minumnya purwaceng gitu ditaaa… kan sini ga tau apa itu purwaceng. lha kok lha kok lha kok taunya gituuu… mwahahaha, tetiba jadi ngerasa dewasa bingits gitu akik πŸ˜€ πŸ˜€

    Like

    Reply
      1. rintadita Post author

        MUAHAHAHA ntar aku mau bikin postingan purwaceng tersendiri aja. Gak sempet nyobain sih kemaren, takut cyiiiin kan lagi rame2 gitu:D *emang efeknya bakal gimana ya* *sok polos*

        Like

  2. rosaamalia

    Mbak dit, saking dinginnya wnosobo bikin kalap ampe 10biji ya mb hihihi

    Ak blm pnh donk mkn mie ongklok. *sbg org Magelang aku malu* haha
    Tp gebleknyaaa, tempenyaaa, ahh ak kangeeennn.. Oiya klo di kulonprogo makan geblek sm tempe koro. Itu juga endeusss

    Like

    Reply
      1. Rifqy Faiza Rahman

        Beberapa hari sebelum kalian FamTrip, saya touring motor dari pacitan-jogja ke dieng nah pas pulangnya sebenarnya sudah tekad mau mampir mi ongklok. La kok lupa 😦

        Like

  3. Pingback: Kumpul Travel Bloggers di Wonosobo

  4. Pingback: Ayo Piknik, Jangan Kaya Orang Susah

  5. Pingback: Telaga Warna dan Pengilon Bukit Sidengkeng | Langkah Baruku

  6. dani

    Jiaaaaaah. Jam kritis laper nih bacanya. Mending lihat senyumnya aja deh dit biar agak adem karena dalam kereta ini bacanya. *halah
    mengilerkaaaaan.. huehehhe.

    Like

    Reply
  7. nengwie

    Dari pagi buka WP isinya ko makanaaaan meluluuu…udah gitu bikin lebih sengsara karena susaaaaah dapatnya dan kali juga ngga mungkin ada disini huwaaaaa….

    *pintu Doraemon manaaa…???!!” 😁😁

    Like

    Reply
      1. nengwie

        Hehe ngga usah minta maaf atuuh ….
        Salah satu resiko jauh dari tanah air ya ini nih..makanan yg enak-enak yg sulit didapat kalaupun mau ya memang harus buat sendiri.. tp..tp..khan pengennya tinggala nyam..nyam saja hehe

        Like

  8. Pingback: Bermain Sambil Belajar di Perkebunan Teh Tambi | Alid is Little

  9. Pingback: Empat Kuliner Wajib Wonosobo | Alid is Little

  10. Pingback: Wisata Jawa Tengah: Keajaiban Rambut Gimbal di Dieng | Sang Vectoria Jenaka

  11. ndop

    AKu ini penikmat pedes level satu cabe untuk satu gigitan tahu! Esktrim sekali. Mungkin lidahku ini sudah nggimbal perlu diruwat (dan dipotong?) kali ya, soalnya kebal banget sama pedes hahaha..

    Dan mi ongklok buatku cuma kurang itunya doang, kurang PEDES. Selebihnya sih, biasa aja, lidah orang jatim lebih seneng masakan gurih dibanding manis sih..

    Like

    Reply
  12. Pingback: From Plant to Pot: Tambi Tea Plantation - Discover Your Indonesia

  13. Pingback: Rambut Gembel, Antara Rezeki dan Cobaan | Usemayjourney

  14. Pingback: janji kelak menuju dieng | tindak tanduk arsitek

  15. Pingback: Perjalanan Manis Buah Carica | Jejak BOcahiLANG

  16. Pingback: Mengenal Teh Tambi, Racikan Teh dari Tanah Terbaik | Against the Distance

  17. Firsta

    Dannnn.. pedih di hati pas udah kelar makan, seraya keluar dari warung makan Bu Umi, aku melihat mbak-mbaknya lagi milih-milih/bersihin cabe rawit satu tampah. >.<
    Tadi katanya ga ada huhuhuhuhuhuuuuuu..

    Like

    Reply

Di-read doank itu gak enak, kasih comment donks :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s