Menelusuri Jejak Kerajaan Islam di Banten Lama

Hah ke Banten? Mau ngapain? Belajar debus? Emang apa yang diliat sih disana? Bagus gak? Itu reaksi dari beberapa temen saya waktu saya bilang mau pergi ke Banten bareng travelblogger ngetop, si Winny Alna.

DSC_0258

Jadi hari minggu kemaren saya sama Winny ngebolang berdua ke Banten kayak orang ilang, padahal hari itu juga merupakan kopdar perdana kami. Eh gatau kenapa kok ya langsung klik kayak ketemu temen lama aja gitu πŸ˜€ Waktu belum ketemu kirain Winny ini orangnya pendiem, abisnya kalo jawab comment di blog suka pendek-pendek. Tapi ternyata aslinya seru, heboh, dan kayaknya selalu punya aura positif gitu. Seharian sama dia gak pernah denger dia sekalipun ngeluh, demen deh pokoknya kalo punya temen jalan kayak gini *muji-muji biar ditraktir Hong Tang di GI hahaha* :mrgreen:

Kami menempuh perjalanan kurang lebih 2 jam dari Slipi Jaya menuju Serang naik bus Primajasa jurusan Merak dengan tarif 25ribu rupiah. Dari Serang kami lanjut naik angkot sampai pasar lama, kemudian ganti angkot yang lain untuk menuju Banten Lama. Dari pasar lama ke Banten Lama jaraknya kurang lebih 10 km. Setelah perjalanan yang cukup panjang akhirnya kami tiba juga di hamparan tanah seluas 3,5 ha yang diatasnya terdapat reruntuhan bangunan bata merah dan batu karang. Ini adalah benteng yang didalamnya terdapat keraton Surosowan yang dibangun pada abad ke 15 dan merupakan tempat tinggal para sultan Banten. Dihancurkan pada tahun 1680 saat kerajaan islam Banten berperang melawan Belanda.

PicsArt_1409754201143

Sebenarnya waktu sampai disini gerbang besi untuk masuk ke dalam benteng ini terkunci. Jika ingin masuk ke dalam, harus menghubungi petugas yang ada di museum kepurbakalaan yang letaknya agak jauh di depan bangunan benteng. Karena malas jalan jauh kesana, akhirnya kami melakukan aksi panjat dinding benteng supaya bisa memasuki benteng tersebut. Jangan ditiru ya adek-adek πŸ˜€ Tapi aksi panjat dinding kami tentunya tidak sia-sia, karena memang di dalam benteng tersebut masih terdapat beberapa reruntuhan bangunan yang berbentuk seperti pemandian dan taman yang megah.

PicsArt_1409731395035

DSC_0045

PicsArt_1409754878475

bekas pemandian sultan

PicsArt_1409754455672

Setelah puas keliling reruntuhan keraton, kami menuju Masjid Agung Banten untuk menunaikan shalat ashar. Masjid yang dibangun oleh Sultan Maulana Hasanudin ini tampak sangat ramai, rupanya banyak warga yang sedang berziarah di makam sultan dan keluarga sultan yang ada di serambi kanan kiri masjid. Arsitektur masjidnya unik karena merupakan perpaduan Hindu Jawa, Cina serta Eropa. Tapi yang paling saya suka adalah pintunya yang mungil karena mirip dengan rumah Hobbit πŸ˜€ Sayangnya bangunan masjid ini tampak kumuh dan tidak terawat, ditambah lagi banyak pengemis, pedagang dan peminta sumbangan liar yang membuat suasana masjid tidak nyaman.

PicsArt_1409754694708

DSC_0112

Selesai sholat kami berencana masuk ke dalam museum kepurbakalaan, tapi ternyata museumnya sudah tutup. Akhirnya kami putar haluan ke vihara alokitesvara dan benteng spellwijk. Ternyata disini tidak terlalu menarik karena benteng tersebut terlalu ramai oleh pemuda-pemudi yang nongkrong dan digunakan untuk main bola oleh warga sekitar, padahal kami sudah berjalan kaki cukup jauh untuk mencapai kesini. Langit sudah hampir gelap ketika kami baru saja tiba di depan istana keraton Kaibon setelah membajak seorang warga lokal untuk jadi tukang ojek πŸ˜€ Reruntuhan istana tempat tinggal Ratu Aisyah, ibunda Sultan syaifudin ini masih berbentuk dan cukup megah, di sampingnya terdapat pepohonan besar dan kanal yang menambah kesan mistis. Menurut sumber yang saya baca, istana ini juga dihancurkan oleh Belanda pada tahun 1832. Langit sudah makin gelap, adzan maghrib pun berkumandang, kami gak berani lama-lama disini dan akhirnya memutuskan untuk kembali ke Jakarta.

DSC_0213

benteng spellwijk

PicsArt_1409754289006

keraton Kaibon

Sangat disayangkan bahwa tempat-tempat bersejarah tersebut tidak dirawat dan dikelola dengan baik oleh Pemerintah setempat, bahkan akses menuju kesanapun jalannya sudah rusak. Semoga ke depannya pemerintah Banten bisa lebih peduli terhadap tempat ini bukannya ngedempulin muka mulu biar makin mengkilat ya seus

Tips & Info

  1. Berangkat dari jakarta maksimal jam 9 biar tidak terlalu siang, karena Banten kalo siang panas banget ya Allah
  2. Lebih nyaman naik kereta Kalimaya dari Tanah Abang – Serang, setelah itu cukup naik angkot 1 kali menuju Banten Lama. Pulangnya juga lebih nyaman tinggal naik angkot 1 kali ke stasiun
  3. Bus dari Serang ke Jakarta rata-rata tujuannya ke Kampung Rambutan dan Kalideres, katanya sih ada yang ke Senen juga tapi kami kemarin nungguin hampir 1 jam gak nongol-nongol itu bus yang ke Senen
  4. jangan lupa bawa cengdem

sebagian foto dicopy dari kameranya Winny πŸ˜€

Advertisements

65 thoughts on “Menelusuri Jejak Kerajaan Islam di Banten Lama

  1. Clarissa Mey

    setuju sama kalimat terakhir sebelum tipsnya dit, tempat2 begini nih yg harusnya dipelihara sama pemerintah, bukan mempermewah mall2 megah di jakarta *eh itu sih dari swasta yah uangnya*
    akhir bulan ke malang juga mau ngunjungin mesjid yg katanya bersejarah disana (lupa namanya), meskipun ga ngerti sejarahnya tapi seru deh liat2 tempat ibadah πŸ™‚

    Like

    Reply
    1. rintadita Post author

      wahhh kamu mau ke Malang Mey? yaaah aku baru mudik bulan oktober, coba kalo barengan kan bisa ketemu πŸ˜€

      mau ke masjid tiban atau masjid jami?
      pasti mau ke gereja immanuel sama gereja ijen juga kan ya πŸ˜€

      Like

      Reply
      1. Clarissa Mey

        masjid jami namanya Dit, temen kantorku yg ajakin.. kalo gereja kayanya ngga msk itinerary deh.. kmrn sih katanya museum angkut, masjid jami, pasar atom (apa apung yah), lalu mau ke batu sisanya hehe.. aku di malang cuma sehari nginep di harris πŸ˜€
        waah kamu org malang yah? aku kesana tgl 27-29 september ini, sayang yah ga bisa ketemu hihihi

        Like

      2. rintadita Post author

        ooooh kalo ke masjid jami bisa sekalian ke gereja immanuel sama toko oen, deket banget kok πŸ˜€

        huwaaa kayaknya seru ya, aku aja blom sempet ke museum angkut sama pasar apung hiks

        Like

  2. winnymarch

    perjalanan kita yang seru hbsssssss.. paling suka ama photo manjatmu ada yg di dinding tu mirip Scotland ahhahahah :D… next time jalan lg kt ya.. banyak yg didapat dari perjalanan yg lucu2 dari bocah ojek d banten hingga bocah ojek d jakarta πŸ™‚

    Like

    Reply
    1. rintadita Post author

      hahaha emang bandel sihh ini, manjat2 πŸ˜€
      Cengdem itu goceng adem mba, istilah buat kacamata item abal-abal yang buat gaya-gayaan itu lho. Tapi sekarang mah mana boleh harganya goceng yaaa…minimal 20rebu

      Like

      Reply
  3. dani

    aaaaah, gak kabar-kabar, padahal kalo ngajakin bisa bareng tuh. Saya bisa langsung ke cilegon ke tempat ortu. hahahahaha. sok ikrib banget yak sayah.
    Dah kepengen maen ke sekitaran daerah sana tapi belom keturutan karena selalu ujungnya ke rumah ortu. Huehehehe.

    Like

    Reply
    1. rintadita Post author

      yaahhh abisan gaktau kalo Mas dani mau kesini jugak *ikutan sok ikrib* πŸ˜€ Lain kali kalo maen ke daerah Serang lagi deh yaaaa, kayaknya banyak yang seru disana

      Like

      Reply
  4. Efenerr

    Untung masih tersisa keagungan Kesultanan Banten Lama..sedikit ironis juga mengingat di jaman dahulu daerah ini adalah pelabuhan internasional yang begitu ramai.

    Salam

    Like

    Reply
  5. noerazhka

    Ikutan mampir disini aaahhh ..

    Wah, Banten Lama, salah satu wishlist yang belom kesampean sampe akhirnya pindah dari Jakarta ke Semarang. Next time berarti bisa minta tolong kamu guide-in ya, Dita. Ahahahaha .. πŸ˜‰

    Btw, baru ngeh kamu males mandi, sama dong .. :p

    Like

    Reply
    1. rintadita Post author

      ehh dulu di Jakarta berapa lama? sayang kita belom kenal yaaa πŸ˜€
      siaaapp pokoknya kalo ke Jakarta wajib berkabar πŸ˜›
      hahaha kan harus berpartisipasi dalam kelestarian alam dengan hemat air *alasan*

      Like

      Reply
  6. Rifqy Faiza Rahman

    Pas nulis topik yang sama tadi siang, juga sempat baca tulisannya Mbak Winny. Tapi baru tahu di sini kalau kalian manjat benteng Surosowan πŸ˜€

    Like

    Reply

Di-read doank itu gak enak, kasih comment donks :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s