Milan = Jakarta

Itu kesan pertama saya waktu menjejakkan kaki di kota ini. Setelah menempuh 30 menit perjalanan naik kereta Trenord dengan tiket seharga 10 Eur dari Bandara Milan Malpensa menuju Stasiun Milano Centrale, kami bergegas menuju Metro Stop yang terletak di level bawah stasiun untuk menuju B&B tempat kami menginap. Ternyata eh ternyata metro stop-nya jorok, gelap gak jauh beda sama stasiun Gondangdia. Banyak orang yang geletakan disana-sini, boleh dibilang gelandangan gak sih? πŸ˜€ Perasaan saya bener-bener langsung gak nyaman, apalagi kami sampai di kota ini sudah sekitar jam 9 malam. Penumpang metro sudah tidak terlalu ramai dan toko-toko yang berjajar di sekitar metro stop sudah pada tutup.

PicsArt_1370270700845

Rupanya tampang kami yang ngantuk sembari celingak-celinguk di depan mesin tiket metro mengundang seorang pria Italia bermata biru, berkupluk hitam menghampiri kami dan membantu memencet-mencet tombol mesin tanpa diminta. Kami membeli 2 buah tiket metro 24 jam seharga 4,5 Eur dan memasukkan uang 10 Eur. Harusnya masih ada kembalian 1 Eur yang bisa kami bawa kalo saja si pria Italia berkupluk itu gak langsung mendorong-dorong kami dengan paksa supaya segera menyingkir dari mesin tiket. Oalah baru nyampe udah langsung dipalakin sama mas-mas ganteng πŸ˜€ #salahfokus. Belom selesai shock-nya, udah dikagetkan lagi dengan datengnya metro yang mirip kereta kaleng KRL Jakarta yang ditambah coret-coretan graffiti di sekelilingnya. Welcome to Milan!

Β mi1

Besoknya kami pergi pagi-pagi ke Duomo Milan. Duomo sangat mudah dicapai, tinggal naik metro line 3 (yellow) dari Milano Centrale dan turun di metro stop Duomo. Sepertinya jam kami pergi barengan dengan jam berangkatnya orang-orang Milan ke kantor. Isi Metro penuh banget dengan orang-orang necis berdasi, berblazer hitam, dan banyak juga imigran-imigran negro. Penuh sesaknya hampir sama kayak KRL/Commuter Line Jakarta kalo pagi-pagi πŸ˜€ Seperti di Jakarta juga, menurut beberapa referensi yang saya baca, metro di Milan juga banyak copetnya, jadi sebaiknya hati-hati dengan barang bawaan masing-masing.

mi2

Pagi itu Duomo masih sepi pengunjung, jadi kami masih bebas berfoto sana sini dengan tenang. Duomo adalah sebuah katedral yang dibangun pada tahun 1386. Pembangunan Duomo ini konon membutuhkan waktu 500 tahun karena terdiri dari 135 puncak menara dan 3200 patung didalamnya. Di Duomo, kita bisa masuk dan naik ke puncak menara untuk melihat pemandangan kota Milan dari ketinggian.

mi3

mi4

Di sebelah Duomo terdapat Galleria Vittorio Emanuele II yang berupa bangunan megah seluas 47 meter dan ditutupi kubah kaca setinggi 155 kaki yang berisi butik-butik brand terkenal Italia.

Beberapa jam kemudian, di sekitar Duomo mulai ramai dengan turis dan beberapa imigran negro tersebar di berbagai sudut yang menawarkan gelang persahabatan dari Afrika. Menurut beberapa referensi yang saya baca, mereka tidak segan-segan memaksa dan memasang tarif mahal untuk gelang persahabatan tersebut. Temen saya pernah jadi korban gelang persahabatan ini, waktu itu dia lagi sibuk setting-setting kamera DSLR-nya tiba-tiba ada seorang negro memegang tangannya dan langsung memasangkan gelang persahabatan. Tidak tanggung-tanggung, si negro meminta 10 Eur sebagai harga gelang persahabatan itu. Temen saya gak terima, dia tawar-menawar dengan si negro dan akhirnya muncul kesepakatan di angka 2 Eur. Huhuhu padahal 2 Eur itu kan bisa dipake beli 2 burger ayam di McDonalds *pelit*. Berdasarkan cerita dari temen saya itu, kami bener-bener waspada dan berusaha menghindar dari para imigran negro ini.

DSC04741_0

DSC04734_0

Dari Duomo kami beranjak ke Castello Sforzesco, yaitu sebuah kastil kuno yang terletak di tengah-tengah kota Milan. Sebenernya bisa sih jalan kaki dari Duomo menuju Castello Sforzesco, tapi karena waktu itu udaranya dingin banget jadi kami memilih naik metro line 1 (red) dan berhenti di metro stop Cadorna. Selain arsitekturnya yang keren, di dalem kastil ini juga terdapat 14 museum yang berisi karya seni kuno Italia, instrument musik dan benda-benda arkeologi.

Milan Park and Arch

gambar minjem dari sini

Di belakang kastil terdapat taman yang luas dan indah yang bernama Parco Sempione. Menurut sejarah, taman ini dibangun hampir bersamaan dengan kastil yang digunakan sebagai taman untuk keluarga kerajaan. Di sekitar taman terdapat kursi-kursi untuk bersantai, kolam ikan dan lapangan basket. Bagus banget sih sebenernya tapi sayangnya kami gak bisa terlalu menikmati taman dan motret-motret dengan leluasa karena seperti halnya di Duomo dan Castello Sforzesco, disini juga banyak imigran negro yang berkeliaran menawarkan gelang persahabatan, jualan parfum, bahkan jualan tas KW. Mau foto-foto dan ngeluarin gadget jadi gak leluasa, gak nyaman dan jadi parno duluan. Akhirnya kami jalan terus aja menuju ujung taman dimana terdapat bangunan mirip Arc de Triomphe yang ada di Paris. Entah kalo yang di Milan ini namanya apa, yang jelas disini sepi banget, bebas negro berkeliaran sehingga kami bisa duduk-duduk santai dan foto-foto dengan tenang sebelum melanjutkan lagi perjalanan ke kota berikutnya.

DSC04761_0

abaikan orang ini

So far pengalaman jalan-jalan di Milan memang gak terlalu nyaman karena suasana kotanya bikin was-was sama kayak kalo lagi di Jakarta. Tapi biar gimana-gimana yang namanya traveling kan pasti bisa memperkaya hati, mata dan telinga seperti yang udah ditulis oleh mbak Noni. Meskipun suasananya gak nyaman, tapi dimana lagi kita bisa nemuin kastil megah yang dibangun di tengah-tengah kota metropolitan begini, dimana lagi bisa ngerasain dipalakin sama mas-mas ganteng bermata biru, dimana lagi bisa nemu orang-orang negro jualan tas KW keliling taman, dimana lagi bisa nemuin metro kumuh tapi suara announcernya metro stop-nya merdu dan berirama ala Italia πŸ˜€

Buongiorno!

Advertisements

37 thoughts on “Milan = Jakarta

  1. capung2

    wuihh.. keren !

    gag smpt foto2 di stadion san siro (giuseppe meazza) nya mb… tuh org negronya yg seliweran kyk di tanah abang kali ya.. πŸ˜€

    Like

    Reply
  2. rahmabalcΔ±

    kl baca2 di grup fb: milan dan roma beken sama copet2nya jg ya,byk tuh traveller indo yg jd korban,terakhr ada yg bener2 ludes semuanya termasuk pasportnya,dimanapun emang kudu waspada ya,apalagi eropa abis digoyang krisis,ga jaminan aman nyaman berlabel negara maju:) kata bang napi: tetap waspadalah waspadalah heheh

    Like

    Reply
    1. rintadita Post author

      Iya mba kalo gak liat sendiri gak percaya kalo Eropa kena krisis, ternyata banyak gelandangan juga disana. Betuuul memang harus waspada, kasian banget kalo lagi enak jalan-jalan trus kecopetan sampe paspor2nya

      Like

      Reply
    1. rintadita Post author

      Mbaaa itu bajunya lapis 3 lho, kaos trus coat tipis trus jaket. Emang ndeso ini gak kuat dingin πŸ˜€

      Eh longjohn ama daleman blm diitung x))))) #dibahas

      Like

      Reply
      1. rintadita Post author

        Hahaha gak ngaruh mba, tetep kedinginan. Dia juga orangnya gak tahan dingin, jadilah kami mengandalkan tolak angin dan sari jahe yg dibawa dari Indo πŸ˜€

        Like

  3. sondangrp

    Iiih ngilerrrr….Pantes aja Milan jadi salah satu kiblat fashion ya, Dit, ternyata it’s already in their gene yah. Hihihi iya, dinikmati ajalah dipalaknya, Dit, itung itung kembalian 1 Euro nya buat bayar si Mas Itali ganteng mencetin tombol.

    Like

    Reply
    1. rintadita Post author

      Apa karena mereka tsakep2 ya, jadi mau pake apapun ya cocok2 aja gitu *sirik* hahaha. Iya mba ikhlas kok itu 1 Eur buat mas ganteng *dikeplak Bebeb*

      Like

      Reply
  4. lalatdunia

    Milan,genoa,napoli.
    3 kota ini rawan pettycrime.pernah kecopetan di napoli.kebanyakan malah orang lokalnya yg gitu.kalo imigran2 itu krn mrk emang terpaksa.
    Setiap area ada caponya.kota yg paling aman mungkin livorno.
    πŸ™‚ met travelling

    Like

    Reply
  5. lalatdunia

    Haha..ada kok.apalagi di sicily.tanahnya para godfather :)sempat maen kesana ga?ke mount etna? Ato ke sorrento? kalo org italy ngomong meledak2 pake nunjukin bhs tubuhnya jangan tersinggung atau ikut kepancing.style mrk emang gitu. πŸ™‚

    Like

    Reply
    1. rintadita Post author

      hohoho ada beneran yahhh mafioso itu πŸ˜€ Wahh enggak nih kemaren cuma mampir Milan sama Verona aja. Iya tuhh awalnya sempet kaget waktu gak sengaja nyenggol bapak2, dia marah2nya kayaknya abis diapain aja gitu. Yaelah pak, nyeggol dikit doank x_x

      Like

      Reply
  6. Artha Ratu

    kak.. mau tanya kalau backpacker ke eropa gitu , misalnya ke milan ini budget berapa ya? gimana cara nabungnya mba?
    bagi tips dong mba cara nabung biar bisa ke eropa gitu, khususnya buat freshgraduate yang baru mulai kerja kayak saya ini. hehehe.. makasih mba πŸ˜€

    Like

    Reply

Di-read doank itu gak enak, kasih comment donks :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s