Myanmar, Trip Pertama dan Terakhir di 2020

bagan-myanmar

Bulan Januari 2020 adalah trip terakhir saya ke luar negeri sebelum pandemi COVIDJNCK menguasai bumi. Negara terakhir yang saya singgahi adalah Myanmar, yang akhirnya kesampaian juga setelah bertahun-tahun cuma jadi wish list semata. Karena sesungguhnya susah banget cari temen yang mau diajak ke Myanmar sementara kalo solo traveling juga gak berani, dan sekalinya ada temen waktunya suka gak pas. Dan dengan disinggahinya Myanmar tahun lalu, akhirnya saya sudah khatam berkunjung ke negara-negara ASEAN alhamdulillah semoga bapak Adam Malik bangga kepadaku.

Trip ke Myanmar ini saya ikutan Open Trip bersama beberapa orang yang baru saya kenal, dan di hari keberangkatan kita ketemu langsung di bandara Soekarno Hatta. Berhubung total peserta cuma ada 5 orang, tidak ada guide Indonesia yang akan mendampingi kami tapi nani akan ada guide lokal berupa abang Myanmar yang akan jemput kita di bandara Yangon. Tolong jangan bayangkan abang guide ini seperti si Paing Takhon ya, kalo guide-nya kayak gitu tentunya langsung saya bungkus buat bawa pulang.

paing-takhon-myanmar
mas Paing Takhon

Setelah transit sebentar di Svarnabhumi International Airport (karena naik Thai Airways) akhirnya jam 7 malam kami tiba di Yangon dan disambut oleh Zaw sang local Guide. Berhubung dia keliatannya lebih tua, mari kita sebut dia abang Zaw. Setelah nuker uang USD ke Kyat kami dibawa abang Zaw untuk makan malam di resto Thai dan selanjutnya ke hotel untuk beristirahat.

Besok paginya kami explore Yangon mulai dari Sule Pagoda, Botataung Pagoda, Shwedagon Pagoda dan Bogyoke market buat shopping. Waktu explore Yangon banyak banget nemuin penjual street food mulai dari yang mirip bubur ayam, pecel dan ada juga yang mirip bubur sum-sum, beberapa juga ada yang kita beli karena penasaran. Dan yang paling penting biar berasa lokal banget adalah nyobain pake thanaka atau bedak khas Myanmar yang berasal dari batang pohon, warnanya kuning dan memberikan sensasi dingin. Di Bogyoke ini juga kami ngeborong kaos Myanmar dan Longyi (sarung khas Myanmar) karena kami gak akan mampir ke pasar sejenis Bogyoke ini lagi hari-hari berikutnya jadi yuk dimaksimalkan belanjanya bund!

ini entah bubur atau soto ya

Malamnya kami langsung naik bus malam (overnight bus) untuk menuju Bagan. Bus malamnya nyaman banget dengan seating arrangement 2-1 dan fasilitasnya lengkap mulai dari foot rest, selimut, snack box dan mini TV screen. Kalo di Indonesia mungkin sejenis Damri Royal Class gitu kali ya. Dan selama perjalanan bus ini behenti 2 kali di rest area yang cukup bersih tempatnya, toiletnya juga bersih dan tersedia tissue. Trus AC bus-nya juga dingin banget berasa di Alaska, pokoknya saya bisa tidur enak di dalam bus.

Kami sampai di Bagan sekitar pukul 4 pagi dan langsung menuju sunrise point. Setelah foto-foto sunrise yang dihiasi balon-balon udara yang terbang warna warni, kami explore candi-candi (temple) yang ada di sekitar sunrise point kemudian sarapan dan mampir ke hotel untuk bersih-bersih karena belum bisa check in dan lanjut lagi explore candi sampai gumoh x))) Asli ya banyak banget candi di Bagan makanya gak heran kalo Bagan disebut sebagai kota 1000 candi.

Meskipun udah pernah naik balon udara di Cappadocia tapi pasti rasanya beda dan pemandangannya juga pasti beda, maka saya memutuskan untuk mencoba merasakan naik balon udara juga di Bagan. Kami bangun pagi-pagi sekali untuk dijemput dan berkumpul di poin pemberangkatan balon udara. Ternyata pilot balon udara yang saya naiki adalah perempuan muda bernama Leah, keren banget! Sekitar 60 menit kami terbang dan menikmati pemandangan Bagan dari ketinggian. Balon udara di Bagan ini gak ada sepanjang tahun, tapi biasanya terbang di antara Bulan Oktober sampai April, karena cuaca di Bagan cerah di bulan-bulan itu. Hmm kalo aku sih cerahnya waktu abis gajian aja, OK sip.

penuh banget jembatannya

Sore harinya dari Bagan kami naik bus ke Mandalay dengan lama perjalanan sekitar 3 jam. Mandalay terkenal dengan jembatan U-Bein yang biasanya terpampang di kartupos Myanmar dengan latar belakang sunset yang menawan. Konon katanya U-Bein Bridge adalah jembatan kayu jati terpanjang dan tertua di dunia. Kami sampai di U-bein sekitar pukul 3 sore dengan suasana ramai penuh wisatawan. Mau jalan menyusuri jembatan kayaknya sulit banget, ngeri kecebur. Akhirnya kami cuma santai-santai makan gorengan di warung dan foto-foto di kolong jembatannya aja (kolong jembatan banget mba?!).

gorengan Myanmar sejenis bakwan gitu

Tempat lain yang terkenal di Mandalay adalah Mingun. Untuk bisa mencapai Mingun, kami harus naik kapal penyebrangan terlebih dahulu. Salah satu yang terkenal di Mingun adalah White Temple yang cantik banget, namanya Hsinbyume. Menurut sejarah, pagoda ini dibangun oleh Raja Bagyidaw pada tahun 1816 sebagai pengingat atas permasurinya (yang juga merupakan sepupu dari Putri Hsyinbume atau putri gajah putih) yang meninggal saat melahirkan bayinya, sedih ๐Ÿ˜ฆ

White Temple

Btw kondisi Myanmar saat ini sedang tidak baik-baik saja (ya negara kita juga sih), mari kita doakan bersama semoga segera membaik ya, aamiin! Saya masih mau berkunjung ke sana lagi karena belum ke sempat ke inle lake dan beberapa pagoda yang unik, udah gitu mata uang Myanmar sisa trip kemarin juga masih banyak iniiiii x)))

18 thoughts on “Myanmar, Trip Pertama dan Terakhir di 2020

  1. Ira

    duh Bagan merupakan salah satu kota wish list ku Mbak DIta! Sekarang kalo mau ke Myanmar mikir-mikir ya mbak (selain karena pandemi juga karena konfliknya). Semoga segera membaik keadaan di Myanmar.

    Like

    Reply
  2. Dinilint

    Dit,, kamu kok bisa makan gorengan di kolong jembatan sih. Aku kemaren kok lihatnya nggak tega. Ahahahaha. Aku cuma doyan makanan yang di Bagan doang, itu pun milih yang di resto internasioanal, yang ada terjemahan bahasa inggrisnya. Wkwkwkwk.
    Akibat kapok pesen nasi komplit di warteg di Yangon, rasanya nggak masoook di aku.

    Like

    Reply
    1. Dita Post author

      Lho enak Diiiin, aku mau nambah tapi malu sama yang lain huhuhu. Emang rasa makanannya agak unik-unik gimana gitu yaa, paling aman kalo udah di resto Thai ๐Ÿ˜€

      Like

      Reply
  3. omnduut

    Pas denger berita kudeta di Myanmar langsung kepikiran dampaknya ke pariwisata. Padahal sebelum itu Myanmar ini hits banget, aku juga udah naksir banget walau belum kesampaian ke sana. Keburu dihantam pandemi hiks.

    Like

    Reply
  4. BaRTZap

    Negara yang batal mulu setiap kali mau aku kunjungi. Ada mulu deh halangannya. Apa besok-besok (kalau udah aman), aku langsung cuss ke bandara aja dan beli tiket penerbangan ke sana ya? Perlu apply visa gak sih?

    Like

    Reply
  5. Rifqy Faiza Rahman

    Dulu ketika berkesempatan ke Malaysia, Singapura, dan Thailand semasa kuliah, sebenarnya sudah nyiapin rencana perjalanan ke negara-negara ASEAN lain. Termasuk Myanmar. Tapi sampai sekarang belum keturutan. Dan ternyata Myanmar lagi gonjang-ganjing. Semoga lekas membaik.

    Apalagi ada satu hal yang bikin tetap semangat ke Myanmar suatu saat. Tak lain tak bukan gara-gara si Thet Htar Thuzar. Pebulutangkis yang kemarin lawan Jorji di Olimpiade Tokyo buahahaha.

    Like

    Reply

Leave a Reply to Dita Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s