Traveling Through Books : Still Alice

still-alice-beach

sumber foto

Pernah terpikir gak gimana rasanya kalo kita tiba-tiba kehilangan ingatan? Jujur aja, waktu sempat merasakan sakit hati teramat dalam dulu saya pernah lho berharap tiba-tiba hilang ingatan πŸ˜€ Berharap gak perlu lagi dihantui kenangan-kenangan masa lalu baik itu kenangan manis yang tiba-tiba bisa bikin galau, atau kenangan pahit yang bikin menyesal seumur hidup. Ah mungkin kamu juga pernah merasakan hal yang sama *nyari temen*. Tapi emangnya seenak dan segampang itu ya kehilangan ingatan? Iya kalo yang hilang adalah sesuatu yang memang gak pengen kita kenang lagi. Tapi kalo yang hilang adalah ingatan yang krusial seperti siapa keluarga kita, pekerjaan kita, dimana kita tinggal? Sanggupkah kita menghadapinya?

Alice Howland, seorang dosen di Harvard dengan kehidupannya yang sempurna bersama John suaminya yang juga seorang Dosen, dan tiga orang anaknya yang telah dewasa. Anna seorang pengacara, Tom seorang mahasiswa kedokteran dan Lydia yang sedang meniti karir sebagai seorang aktris. Suatu ketika disaat sedang memberikan presentasi di sebuah universitas mendadak Alice mengalami masalah ketika sedang berbicara, ia kesulitan mengingat suatu kata. Pengalaman aneh berikutnya kembali ia rasakan ketika sedang lari pagi, mendadak Alice merasa tidak tahu berada di mana dan tidak ingat jalan pulang.

Bingung oleh banyaknya kejadian aneh yang tak biasa, akhirnya Alice pergi ke seorang ahli saraf untuk mencari tahu. Ternyata Alice di diagnosis sedang berada di tahap awal dari sebuah penyakit yang bernama Alzheimer, penyakit yang menyerang sel-sel di bagian otak. Alice dan John awalnya memutuskan untuk merahasiakan hal tersebut dari anak-anak mereka. Namun salah satu penyebab dari penyakit Alzheimer adalah faktor keturunan sehingga ditakutkan anak-anak mereka juga berpotensi untuk mengidap penyakit yang sama ketika mereka tua nanti.

Harvard Yard (sumber foto)

Harvard Square (sumber foto)

charles river (sumber foto)

Kecemasan-kecemasan yang dialami Alice dalam menghadapi penyakitnya, yang akhirnya menimbulkan polemik di dalam keluarga, digambarkan sangat nyata oleh buku yang nyata-nyatanya fiksi ini. Membaca buku Still Alice, meskipun sangat menguras emosi *peres handuk*, juga menambah pengetahuan mengenai gejala-gejala penyakit Alzheimer yang selama ini sering disamakan dengan istilah pikun. Selain itu, dengan membaca buku ini saya seolah-olah ikut terbawa ke tempat-tempat yang biasa didatangi Alice seperti Harvard Yard dan Harvard Square dan Charles River. Duhh jadi pengen ikutan jogging menyusuri pinggir Charles River kayak Alice πŸ˜€

Buku karya Lisa Genova ini sudah difilmkan pada akhir tahun 2014 lalu, yang dibintangi oleh Julianne Moore (Alice Howland),Β  Alec Baldwin (John Howland), Kate Bosworth (Anna), Hunter Parrish (Tom) dan Kristen Stewart (Lydia). Dimana melalui perannya dalam film ini, Julianne Moore berhasil memenangkan piala Oscar 2015 untuk kategori Best Actress.

Kamu sudah pernah baca bukunya? atau mungkin nonton filmnya? Saat ini buku Still Alice edisi Bahasa Indonesia-nya sudah terbit πŸ™‚

thebooklyclub

sumber foto

Still Alice (edisi Bahasa Indonesia)
Penulis: Lisa Genova
Penerjemah: Anindita Prabaningrum
Editor: Yuki Anggia Putri
Penerbit Terjemahan: Penerbit Esensi (imprint Penerbit Erlangga)
Tahun Terbit: 2015
Saat ini hanya bisa diperoleh dengan cara Pre-Order melalui http://www.bukuerlangga.com

Advertisements

45 thoughts on “Traveling Through Books : Still Alice

  1. Gara

    Doh, tema Alzheimer memang tidak akan habis menariknya untuk dituangkan dari sebuah cerita. Jadi ingat, satu-satunya film sejauh ini yang bisa membuat saya menangis itu baru “A Moment To Remember” dan itu film sedih banget… jadi film ini juga semoga menarik untuk ditonton (eh tapi mau baca bukunya dulu deng :haha), apalagi kalau Julianne Moore sudah tak diragukan lagi ya aktingnya, dulu pernah nonton dia di Game Change dan itu epic banget kerennya :)).

    Soal ingat dan lupa… masih bingung juga mana yang lebih baik :haha. Soalnya dulu pernah dengar quote di film juga bahwa yang paling menyakitkan itu justru ketika kita mengingat apa yang paling ingin kita lupakan. Sedangkan di sini, kebalikannya. Yah, saya cuma berharap kalau saya mengingat apa yang perlu saya ingat dan melupakan apa yang tidak baik kalau saya ingat-ingat :hehe.

    Like

    Reply
    1. Dita Post author

      aku belum nonton tuhh a moment to remember, jarang-jarang nonton drama sihh…suka baper soalnya hahaha πŸ˜›
      aamiin semua juga maunya gitu, mengingat yang perlu diingat aja….yang gak penting buang jauh-jauh ke laut aja deeeh πŸ˜€

      Liked by 1 person

      Reply
      1. Gara

        Memangnya waktu nonton film yang ini tidak baper juga Mbak? :hihi.
        Iya, tapi kadang kita malah melupakan yang penting dan mengingat yang tidak perlu :hehe.

        Like

    1. Dita Post author

      beli DVDnya doonk, ntar aku pinjem ya πŸ˜› woooh karena baru buka ya, jadi masih rame banget. Coba kalo ke sana jgn pas wiken, weekday aja hihihi πŸ˜€

      Like

      Reply

Di-read doank itu gak enak, kasih comment donks :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s